Tuesday, December 28, 2010

Kisah Orang Yang Kehilangan Untanya di Tanah Yang Sunyi

Ini adalah kisah seorang laki-laki yang kehilangan untanya di tanah yang sunyi lagi sepi. Lalu dia tidur, tapi tiba-tiba unta itu sudah berdiri di depan matanya. Karena bahagianya dia berucap, "Kamu adalah tuhanku dan aku adalah hambamu." Rasulullah telah menyampaikan bahwa Allah lebih berbahagia terhadap taubat seorang hamba daripada orang dengan untanya yang kembali ditemukan ini

NASH HADIS

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Samak berkata bahwa Nu'man bin Basyir berkhutbah, "Sungguh, Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang membawa makanan dan minumannya di atas punggung unta, kemudian dia berjalan. Sesampainya di daerah yang sepi, datanglah waktu untuk qoilulah (tidur siang). Dia turun dan ber-qoilulah di bawah pohon. Dia tertidur dan untanya pergi meninggalkannya. Dia terbangun lalu berjalan beberapa jarak, tetapi dia tidak menemukan apa pun. Kemudian dia berjalan beberapa jarak untuk kedua kalinya, tetapi dia tetap tidak menemukan apa pun. Lalu dia berjalan beberapa jarak untuk ketiga kalinya, tetapi dia masih tidak menemukan apa pun. Dia kembali mendatangi tempat di mana dia beristirahat siang. Manakala dia sedang duduk, tiba-tiba untanya datang berjalan hingga ia menjatuhkan tali kekangnya di depannya. Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba daripada orang ini ketika dia menemukan untanya."

Samak berkata, "Sya'bi mengklaim bahwa Nu'man menyandarkan hadis ini kepada Nabi. Adapun aku tidak mendengarnya."

TAKHRIJ HADIS

Hadis dengan lafazh ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Nu'man bin Basyir dalam Kitabud Da’awat, bab dorongan taubat, 4/2103, no. 2745.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud secara marfu’ dalam Kitabud Da’awat, bab taubat, 11/102, no. 6308.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabut Taubah, bab anjuran bertaubat, 4/2103, no. 2744. Muslim juga meriwayatkannya dari Barra' bin Azib dan Anas bin Malik.

PENJELASAN HADIS

Ini adalah kisah seorang laki-laki di mana Rasulullah Menjadikannya sebagai perumpamaan terhadap kebahagiaan Tuhan dengan taubat hamba-Nya. Kisah laki-laki ini terjadi ketika dia melakukan perjalanan sendirian dengan bekal makanan dan minuman di atas punggung untanya. Dia berangkat membelah daratan untuk sampai di tempat tujuannya. Riwayat-riwayat hadis menunjukkan bahwa yang bisa melewati daratan ini dengan selamat hanyalah orang yang telah mengenal seluk-beluk dan liku-liku jalannya. Laki-laki ini membawa bekal makanan dan air yang cukup bagi musafir selama dia harus membelah daratan itu. Hadis-hadis menerangkan bahwa daratan ini adalah daratan yang sepi, tanpa tumbuh-tumbuhan, sunyi dan mencelakakan, karena tidak berair dan bermakanan.

Di tengah hari laki-laki musafir ini melihat sebatang pohon di daratan itu. Dia sangat lelah. Dia pun turun dan beristirahat di bawahnya. Tidur siang hari memang digemari oleh banyak orang, lebih-lebih orang yang sedang kelelahan seperti musafir ini.

Begitu dia menutup kedua matanya, untanya lalu menghilang. Ketika dia bangun dia tidak melihatnya. Dia sangat terkejut, bukan karena rugi unta dan makanan. Itu adalah urusan yang mudah. Akan tetapi, hilangnya unta di daratan seperti ini berarti mati. Oleh karena itu, dia berlari ke sana-kemari untuk mencarinya, tetapi tidak menemukannya.

Dia kembali ke tempat semula dalam keadaan lelah dan haus. Karena lelahnya dia pun kembali tertidur. Ketika dia bangun, dia menemukan untanya sudah di depan matanya. Dia sangat bahagia dengan kebahagiaan seperti orang yang selamat dari kematian. Karena bahagianya dia salah berucap kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu." Seperti yang tertuang dalam sebagian riwayat hadis.

Rasulullah telah menyampaikan kepada kita bahwa Allah lebih berbahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada orang yang menemukan kembali untanya di daratan yang mematikan tersebut, seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Keutamaan taubat. Taubat menjadikan Allah ridha. Allah lebih berbahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada laki-laki yang menemukan untanya di daratan yang mematikan tersebut.
  2. Menetapkan sifat farah (berbahagia) bagi Allah. Bahagianya Allah adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, tidak disamakan dengan bahagianya makhluk. Ini berpijak kepada firman Allah, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengannya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)
  3. Kasih sayang dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Dia mengembalikan unta laki-laki ini setelah dia berputus asa darinya.
  4. Hendaknya seseorang berhati-hati. Seandainya laki-laki ini mengikat untanya, maka apa yang terjadi padanya tidak akan terjadi.
  5. Allah tidak menyalahkan orang yang dikuasai oleh emosi yang berlebihan dan kehilangan kemampuan berpikir karena takut atau senang atau marah, lalu dia mengatakan sesuatu yang tidak diinginkannya, sebagaimana Allah tidak menyalahkan laki-laki ini atas ucapan yang dikatakannya. Seandainya dia bermaksud mengucapkan hal itu, niscaya dia telah kufur kepada Allah.
  6. Boleh seseorang menceritakan ucapan orang lain yang salah, seperti Rasulullah yang menceritakan ucapan laki-laki ini dan sebagaimana Al-Qur'an menyampaikan ucapan orang-orang yang mengatakan kekufuran. Seperti ucapan mereka, "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya." (QS. Ali Imran: 181) Dan ucapan mereka, "Tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka itu dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu." (QS. Al-Maidah: 64)
Sumber:
KISAH-KISAH SHAHIH DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, Karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor

Saturday, December 18, 2010

Kisah 11 Orang Wanita dan Tentang Suami Mereka


Diriwayatkan oleh Aisyah R.a : Ada 11 orang wanita duduk berkumpul, lalu mereka saling berjanji dan mengucapkan kesepakatan untuk tidak menutup-nutupi sedikitpun informasi tentang suami-suami mereka.

Wanita pertama mengatakan: “Suamiku bagaikan seperti onta yang kurus yang berada diatas puncak gunung yang terjal, yang landai pun didaki dan yang gemuk pun dinaiki.”

Wanita kedua mengatakan: “Suamiku, aku terpaksa tidak dapat menuturkan mengenai keadaannya karena aku khawatir tidak dapat meninggalkannya. Jika aku menyebutkan sama halnya aku mengungkapkan rahasia aibnya."

Wanita ketiga mengatakan: "Suamiku berperawakan tinggi sekali. Jika aku berbicara maka aku akan diceraikannya dan jika aku diam aku pun akan dibiarkannya tanpa dicerai dan dikawinkan (muallaqah)."

Wanita keempat mengatakan: "Suamiku seperti suasana malam di wilayah Tihamah, tidak panas dan tidak juga terlalu dingin, tidak menakutkan dan tidak juga membosankan."

Wanita kelima mengatakan: "Suamiku apabila sudah memasuki rumah, maka dia langsung tertidur nyenyak dan apabila keluar rumah dia seperti seekor singa tanpa menanyakan sesuatu apapun yang bukan termasuk urusannya."

Wanita keenam mengatakan: "Suamiku apabila makan, maka ia makan banyak sekali dengan bermacam jenis lauk dan jika minum maka semua sisa minuman akan diteguknya. Dan jika tidur dia akan berselimut tanpa mendekati diriku sehingga ia dapat merasakan nikmatnya kebersamaan."

Wanita ketujuh mengatakan: "Suamiku adalah orang yang tidak mengetahui kepentingan dirinya atau lemah syahwat serta tergagap-gagap bicaranya, setiap obat yang diminum tidak dapat menyembuhkan. Di samping itu dia juga orang yang mudah melukai dan memukul."

Wanita kedelapan mengatakan: "Suamiku beraroma wangi seperti zarnab dan sentuhannya selembut sentuhan seekor kelinci."

Wanita kesembilan mengatakan: "Suamiku adalah seorang terhormat, berpostur tinggi dan sangat dermawan, berumah dekat dengan tempat pertemuan."

Wanita kesepuluh mengatakan: "Suamiku bagaikan seorang raja, apa maksudnya? Suamiku adalah seorang pemilik unta yang banyak yang selalu menderum dan jarang sekali bergembala di padang rumput. Unta-unta tersebut jika mendengar suara alat musik kecapi, mereka merasa bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih."

Dan wanita yang kesebelas mengatakan: "Suamiku bernama Abu Zar`in(seorang petani). Tahukah kamu siapakah Abu Zar`in? Dialah yang memberiku perhiasan anting-anting dan memberiku makan sehingga aku kelihatan gemuk dan selalu membuatku gembira sehingga aku merasa senang. Dia mendapati diriku dari keluarga tidak mampu yang tinggal di lereng bukit lalu mengajakku tinggal di daerah peternakan kuda dan unta dan dia juga seorang petani. Aku tidak pernah dicela bila berbicara di sisinya dan bila tidur aku dapat tidur dengan nyenyak sampai pagi. Dan bila minum aku dapat minum sampai puas. Lalu Ummu Abu Zar`in `, tahukah kamu siapakah Ummu Abu Zar`in `? Dia memiliki kantong-kantong bahan makanan yang besar-besar dan rumahnya sangat luas. Ibnu Abu Zar`in `, tahukah kamu siapakah Ibnu Abu Zar`in `? Dia memiliki tempat tidur laksana pedang yang dicabut dari sarungnya. Dia sudah merasa kenyang dengan hanya memakan sebelah kaki seekor anak kambing. Putri Abu Zar`in `, tahukah kamu siapakah putri Abu Zar`in ` itu? Ia adalah seorang yang amat patuh terhadap kedua orang tuanya. Tubuhnya gemuk dan suka menimbulkan rasa iri tetangganya. Budak perempuan Abu Zar`in `, tahukah kamu siapakah budak perempuan Abu Zar`in `? Ia tidak pernah menyebarkan rahasia pembicaraan kami dan tidak menyia-nyiakan persediaan makanan kami serta tidak pernah mengotori rumah kami seperti sarang burung."

Ia (sang istri) melanjutkan:" Suatu hari Abu Zar`in ` keluar dengan membawa bejana-bejana susu yang akan dijadikan mentega lalu bertemu dengan seorang wanita bersama kedua anaknya yang seperti dua ekor anak singa bermain dengan dua buah delima di bawah pinggang ibunya. Setelah itu aku diceraikannya demi untuk menikahi wanita tersebut. Lalu aku menikah lagi dengan seorang lelaki terhormat serta dermawan. Ia menunggangi seekor kuda yang sangat cepat larinya sambil membawa sebatang tombak dan memperlihatkan kepadaku kandang ternak yang penuh dengan unta, sapi dan kambing serta memberikanku sepasang dari setiap jenis binatang ternak tersebut. Dia berkata: Makanlah wahai Ummu Zar`in` dan bawalah untuk keluargamu. Kalau kukumpulkan semua pemberiannya pasti tidak akan mencapai harga tempat minum paling kecil milik Abu Zar`in `. Aisyah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: "Aku terhadapmu adalah seperti Abu Zar`in` terhadap Ummu Zar`in."

Sumber: (Shahih Bukhari No.5189)
(Shahih Muslim No.4481)

Thursday, December 16, 2010

Kisah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf Rah.a (Tabi'in)

Hakim Adil dari Madinah

”Engkau telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaummu yang sepengetahuanku tidak ada tidak ada yang lebih tahu tentang hadis daripada keduanya: Urwah dan Abu Salamah.”…-Ibrahim bin Qarizh-


Abu Salamah adalah putera Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah yang kaya. Nasabnya secara lengkap adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf bin Abdi Auf bin Abdi bin Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab al-Quraisy az-Zuhri al-Hafizh. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’nya menempatkannya pada tingkatan kedua dalam jajaran era Tabi’in. Dia merupakan ulama madinah. Ada yang mengatakan nama aslinya adalah Abdullah atau Ismail. Dia dilahirkan pada sekitar tahun 20-an Hijriyah. Ia hanya meriwayatkan sedikit hadis dari ayahnya. Karena sang ayah terlebih dahulu meninggal dunia. Saat itu, Abu Salamah masih kecil.


Namun demikian, ia sempat meriwayatkan hadis dari beberapa sahabat Rasulullah SAW, antara lain dari Usamah bin Zaid, Abdullah bin Salam, Abu Ayyub, Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim, Abu Hurairah, dan beberapa sahabat yang lain.

Menurut Umar bin Abdul Aziz, Abu Salamah adalah penuntut ilmu yang faqih dan mujtahid yang memiliki kemampuan berhujjah. Beberapa ulama meriwayatkan dari Abu Salamah anatar lain anaknya Umar bin Abu Salamah, keponakannya Sa’ad bin Ibrahim, Abdul Majid bin Suhail, Arak bin Malik, asy-Sya’bi, Sa’id al-Maqbari, Amr bin Dinar, az-Zuhri, Salamah bin Khalil, dan lainnya.

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya menyebutkan, Abu Salamah termasuk orang yang Tsiqah dan Faqih. Abu Zur’ah menyebutnya sebagai seorang imam yang tsiqah. Imam Malik berkata,” Diantara kami ada yang dikenal sebagai ahli ilmu. Nama atau kunyah salah seorang diantaranya adalah Abu Salamah.

Muhammad bin Abdullah bin Abi Ya’kub adh-Dhibby berkata,”Abu Salamah pernah datang ke Bashrah dikediaman Bisyr bin Marwan. Abu Salamah merupakan seorang laki-laki yang ceria. Wajahnya seperti mata uang dinar.

Az-Zuhri berkata,”Ada empat orang Quraisy yang kutemui seperti laut (kiasan banyaknya ilmu mereka). Yaitu Urwah, Ibnu al-Musayyab, Abu Salamah dan Ubaidillah bin Abdullah. Namun Abu Salamah sering berbeda pendapat dengan Ibnu Abbas. Dengan demikian, ia terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak dari Ibnu Abbas.

Ibnu Syihab az-Zuhri berkata,”aku datang ke mesir untuk bertemu Abdul Aziz, gubernur daerah itu. Aku berbicara tentang Said bin al-Musayyab. Ibrahim bin Qarizh berkata,”aku tidak mendengar berbicara kecuali tentang Said bin al-Musayyib? Ibnu Syihab menjawab,”Ya.” Ibrahim mengatakan,”Engkau telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaummu yang sepengetahuanku tidak ada tidak ada yang lebih tahu tentang hadis daripada keduanya: Urwah dan Abu Salamah.” . Az-Zuhri kembali mengatakan,” Ketika aku kembali ke madinah akau mendapatkan Urwah laksana laut yang tak dikotori oleh sesuatu.’”

Semasa hidupnya Abu Salamah biasa mengunjungi berbagai kota. Selain Mesir dan Bashrah, ia juga pernah ke kuffah. Dipaparkan asy-Sya’bi, “Ketika ke kuffah, ia berjalan diantaraku dan seorang pria. Lalu ia ditanya tentang orang yang paling berilmu. Ia diam sejenak, lalu menjawab,”seorang pria diantara kalian berdua.”

Diantara Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah adalah hadis dari Abu Hurairah yang berbunyi:
“Janganlah memperkuat (tekad) untuk melakukan perjalanan kecuali pada tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjidil Aqsha (di Yerusalem).”

Hadis lain yang bersumber dari Abu Salamah dari jalur Qatadah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Melihat itu dari Allah dan bermimpi itu dari Syetan. Ketika salah satu dari kalian bermimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali dan berta’awudz (berlindunglah) pada Allah dari keburukannya. Maka hal itu tak akan membahayakannya.”

Sejarawan Khalifah bin Khayyath mengatakan,”Marwan bin Hakam meninggalkan Madinah pada 48 Hijriyah. Lalu madinah dipimpin oleh Sa’id bin Ash. Dan Abu Salamah bin Abdurrahman diminta sebagai hakim.”

Abu Salamah tetap menjabat sebgai Qadhi Madinah hingga Sa’id tidak lagi menjabat gubernur kota itu pada tahun 54 Hijriyah.

Abu Sa’ad berkata,”Abu Salamah meninggal dunia di Madinah pada tahun 94 Hijriyah pada masa pemerintahan al-Walid dalam usia 72 tahun. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia wafat pada tahun 104 Hijriyah

Sumber :
Buku 101 Kisah Tabi’in
Siyar A’lam Nubala
Masyahir Ulama’ al-Amshar

Tuesday, December 14, 2010

Kisah Abu Wail Syaqiq bin Salamah Rah.a (Tabi'in)

Perpanduan Ilmu dan Amal
“Aku tidak pernah melihat Abu Wail berpaling dari shalatnya, begitu juga di selain shalat.” (Ashim)

Mari kita mulai kisah kehidupan imam ini. Kisah tentang hidayah seorang tokoh. Kita persilahkan Sulaiman bin Mihran memulainya. Syaqiq berkata, “Wahai Sulaiman! Bayangkan kita melarikan diri dari Khalid bin Walid, dan aku terjatuh dari hewan tungganganku yang bisa menginjak leherku. Kalau aku mati saat itu, maka nerakalah bagiku.”

Peristiwa itu terjadi pada saat kaum muslimin memerangi orang-orang murtad di masa pemerintaha Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu, Allah memberikannya hidayah untuk masuk islam.

Dialah Abu Wail Syaqiq bin Salamah al-Asadi al-Kufi, imam besar Dan syaikh kota kufah. Dia lahir dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tak sempat bertemu dengan beliau. Menurut Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqat, Abu Wail lahir pada tahun pertama hijriyah.

Namun demikian Abu Wail sempat meraih kemilauan para sahabat Nabi. Tercatat, ia sempat bertemu dengan Umar bin Khaththab, Utsman, Ali, Amr, Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Aisyah, Ummu Salamah, dan lainnya.

Abu wail mencapai derajat orang-orang shalih. Dialah murid Abdullah bin Mas’ud. Setiap kali melihat Abu Wail, Abdullah bin Mas’ud selalu berseru, “Wahai orang yang bertaubat!”

Beginilah murid Ibnu Mas’ud menjadi pemimpin ahli ilmu dan amal. Kenapa tidak? Dia mengambil langsung ilmu dan amal dari orang yang yang lulus dari madrasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah orang-orang yang selalu menyertai Ibni Mas’ud, baik di malam hari, siang, di rumah, dalam perjalanan, di masjid dan dimana saja.

Perhatikanlah bagaimana Ibnu Mas’ud mendidik murid-muridnya. Suatu ketika, ia berpesan dengan Abu Wail yang sedang membawa mushaf berhias emas. Ibnu Mas’ud berkata “Sungguh yang paling baik untuk menghias al-Qur’an adalah membacanya dengan benar.”

Dalam tempaan inilah Abu Wail Tumbuh. Ibrahim an-Nakha’i pernah menasehati al-A’masy untuk selalu menyertai orang-orang shalih. “Sertailah Syaqiq. Sungguh aku mendapat murid Ibnu Mas’ud sebagai orang yang kaya ilmu. Mereka tergolong orang-orang pilihan,” ujar Ibrahim an-Nakha’i.

Betapa indahnya mendapatkan kesaksian dari seorang ahli fiqh Kufah seperti Ibrahim an-Nakha’i. Perhatikanlah kesaksian Ibrahim an-Nakha’i pada kesempatan lain. “Tidak ada sebuah desa kecuali di dalamnya ada orang yang membela penduduknya. Aku berharap Abu Wail termasuk diantara mereka.”

Posisi ini tidak didapat kecuali dengan usaha maksimim yang panjang melawan godaan hawa nafsu dan syetan serta berusaha untuk taat. Ashim menggabarka shalat dan keshalihan Abu Wail dalam ungkapannya, “Aku tidak pernah melihat Abu Wail berpaling dari shalatnya, begitu juga diselain shalat.”

Ashim pernah mendengar Abu Wail berdoa saat sujud. Diantara doanya adalah, “Tuhan, ampunilah aku! Tuhan maafkanlah aku! Jika engkau memaafkanku, maka panjangkanlah keutamaanmu. Jika engkau mengazabku, bukan oleh orang yang zalim padaku.”

Ashim berkata, “Kemudian ia menangis sampai kedengaran dari luar masjid.”

Abu Wail termasuk orang yang menyucikan hati dan jiwanya. Ashim ketika Berkata, “Aku tidak pernah mendengar Abu wail mencaci manusia atau binatang sama sekali.”

Az-Zabarqand menceritakan, “Suatu ketika aku bersama Abu wail. Lalu aki mencaci al-Hajjaj dan menyebut-nyebut keberukannya. Abu Wail berkata, “Jangan mencaci, Siapa tahu dia berdoa, ‘Ya Allah ampunilah aku.’ Maka, Allah mengampuninya.”

Ini keutamaan yang diberikan Allah untuk menjaga lisan seseorang dari kalimat sia-sia. Barang siapa yang menjaga lisannya dari kata-kata yang sia-sia, maka ia akan bisa menjaga jiwanya.

Abu Wail juga dikenal sangat wara’ dan berhati-hati menerima pemberian. Hal ini tercermin dari ungkapannya pada seorang budaknya, “Kalau Yahya –anaknya- datang membawa sesuatu, janganlah diterima. Kalau para sahabatku datang, maka terimalah.”

Abu Wail juga sangat menjaga dirinya untuk tidak terlibat pada pekerjaan pemerintah. Ini nampak ketika seorang pria datang dan berkata, “Anakmu dipekerjakan dipasar.” Abu Wail berkata, “Demi Allah! Seandainya engkau datang membewa berita kematiannya itu lebih kusukai. Sungguh aku sangat membenci masuknya hasil pekerjaan mereka ke rumahku.”

Namun demikian, tetap saja ia mendapat ujian sebagaimana ulama dan ahli ilmu yang lainnya. Suatu ketika dia diminta datang untuk menemui al-Hajjaj bin Yusuf. Ketika bertemu, al-Hajjaj segera bertanya, “Siapa namamu?”

“tidak mungkin seorang amir memenggilku kala dia tidak tahu namaku,” jawab Abu Wail.
“Kapan engkau tinggal di negeri ini?”

“Pada malam-malam penduduknya menetap.”

“Apa yang engkau baca dari al-Qur’an?”

“Aku membaca dari al-Qur’an yang kalau kuikuti, akan mecukupiku.”

“Kami ingin menugaskanmu pada sebagian pekerjaan kami.”

“Pekerjaan apa?”

“silsilah!”

“Silsilah tidak pantas kecuali bagi mereka yang melakukannya. Kalau engku minta bantuanku, maka engkau minta tolong pada syaikh yang lemah. Kalau amir memaafkanku, itu yang lebih aku cintai.” Abu Wail berhasil menghindar dari tawaran pemerintah.
Ia meninggal pada tahun 82 hijriyah *)

Sumber:dari Buku 101 Kisah Tabi’in

Monday, December 13, 2010

Kisah Utusan 'Ad

Hadis ini mengisahkan sepenggal kisah binasanya 'Ad, kaum Nabi Hud. Mereka tinggal di selatan jazirah Arabiyah. Mereka mendustakan Rasul Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka adzab kekeringan dan kelaparan. Akan tetapi,mereka tetap gigih mempertahankan kekufuran. Mereka mengira bahwa kesulitan bisa ditanggulangi hanya dengan mengutus seorang utusan ke tanah suci untuk berdoa meminta hujan bagi mereka. Mereka tidak mengerti bahwa pemberi hujan adalah Allah, bahwa adalah mungkin bagi mereka untuk berdoa kepada-Nya di tempat mereka tinggal, dan bahwa sebab terbesar yang bisa menolong mereka adalah iman kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Mereka telah melakukan kesalahan ketika mereka tidak mengetahui bagaimana mengatasi ujian. Mereka melakukan kesalahan kedua ketika menyerahkan urusan penting, yaitu mencari hujan kepada orang pandir yang tidak layak. Lalu apa hasilnya? Utusan ini pergi dan selama satu bulan menjadi pemabuk. Dia mengenyangkan telinganya dengan mendengar lagu-lagu di rumah seorang temannya yang hartawan. Setelah satu bulan dia berdoa kepada Tuhannya dengan doa orang-orang sombong yang tidak becus berdoa kepada Allah dan bermuamalah dengannya. Allah memberinya pilihan di antara awan-awan. Dia memilih awan yang berisi adzab yang menghancurkannya dan kaumnya.

Seorang utusan yang membawa sial dari kaum yang dzalim.

NASH HADIS

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Al-Haris bin Yazid Al-Bakri berkata, "Aku pergi untuk mengadukan Al-Ala' bin Al-Hadrami kepada Rasulullah. Aku melewati Rabadzah. Aku melihat seorang wanita tua yang sedang sendiri dari Bani Tamim. Wanita tua ini berkata kepadaku, 'Wahai hamba Allah, aku mempunyai hajat kepada Rasulullah. Apakah kamu bersedia memberiku tumpangan kepadanya?' Haris berkata, 'Lalu aku membawanya. Aku datang ke Madinah. Pada saat itu orang-orang sedang berkumpul di masjid, aku melihat panji berwarna hitam berkibar sementara Bilal bersiap-siap dengan pedangnya di depan Rasulullah. Aku bertanya, 'Ada apa?' Mereka menjawab, 'Rasulullah hendak mengutus Amru bin Ash ke suatu arah."

Haris berkata, "Aku duduk. Lalu Rasulullah masuk ke dalam rumahnya, atau kemahnya. Aku meminta izin dan diberi izin. Aku masuk sambil memberi salam. Rasulullah bertanya, 'Apakah di antara kalian dengan Tamim terjadi sesuatu?' Aku menjawab, 'Ya. Dan kami mengungguli mereka. Aku melewati seorang wanita tua dari Tamim dalam keadaan sendiri, dia memintaku membawanya kepadamu. Dia berada di pintu.' Rasulullah mengizinkan dan wanita itu masuk."

Aku berkata, 'Ya Rasulullah, jika engkau berkenan menjadikan pembatas antara kami dengan bani Tamim, maka jadikanlah Ad-Dahna.' Wanita tua itu emosi dan marah. Dia berkata, 'Ya Rasulullah, lalu ke mana engkau memaksa Mudhormu?' Aku berkata, 'Aku ini seperti yang dikatakan oleh sebuah peribahasa, 'Seekor domba membawa kematiannya'. Aku telah membawa wanita ini. Aku tidak tahu bila ternyata dia adalah seteruku. Aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya supaya aku tidak menjadi seperti utusan 'Ad.' Nabi bertanya, 'Katakan siapa itu utusan 'Ad?' Padahal Nabi lebih tahu ceritanya daripada dia, akan tetapi beliau ingin menenangkannya."

Aku berkata, "Sesungguhnya kaum 'Ad tertimpa kekeringan, lalu mereka mengutus seorang utusan yang bernama Qail. Qail melewati Muawiyah bin Bakr, maka dia tinggal satu bulan di sisinya, minum khamr, dan menikmati nyanyian dua penyanyi wanita yang bernama Al-Jarodatan. Setelah satu bulan berlalu, Qail pergi ke gunung Tihamah dan memanggil, 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak datang kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya, dan tidak kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah, berikan hujan kepada 'Ad seperti apa yang Engkau berikan.'

Lalu datanglah awan-awan berwarna hitam. Dia dipanggil darinya, 'Pulanglah.' Lalu dia memilih sebuah awan hitam dari awan-awan tersebut dan diserukan darinya, 'Ambillah dalam keadaan menjadi debu, dan lebih halus dari debu dan jangan sisakan seorang pun dari 'Ad.' Dia berkata, 'Yang aku dengar bahwa angin tidak dikirim kepada mereka kecuali seperti apa yang mengalir di cincinku ini sampai mereka binasa."

Abu Wail berkata, "Dia benar." Dia berkata, "Setelah itu, jika orang-orang mengutus utusan, mereka berpesan kepadanya, "Jangan seperti utusan kaum 'Ad."

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, 3/482. Dan Ahmad menyebutkan dua riwayat yang berlafazh mirip.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Yunus (5/391-392), no. 3273- 3274.

PENJELASAN HADIS

Seorang sahabat bernama Al-Haris bin Yazid. Ada yang bilang Al-Haris bin Hassan. Kaum Rabi'ah mengutusnya sebagai delegasi kepada Rasulullah untuk membawa pengaduan terhadap Al-Ala' bin Al-Hadrami. Di tengah jalan dia melewati Rabadzah, sebuah daerah dekat Madinah. Dia bertemu dengan wanita tua yang sedang tertahan sendiri. Wanita itu meminta kepada Haris agar membawanya kepadaRasulullah ketika dia mengetahui bahwa Haris hendak ke sana.

Ketika Haris tiba di Madinah, Madinah sedang sibuk. Para prajurit memenuhi masjid dan daerah sekelilingnya, sementara Bilal menghunus pedangnya di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Haris bertanya, ''Ada apa sebenarnya?'' Maka dia mendapatkan jawaban bahwa Rasulullah hendak mengirim Amru bin Ash untuk memimpin pasukan ke arah tertentu. Dan dalam sebuah riwayat dalam Musnad Ahmad, bahwa Amru bin 'Ash datang setelah menunaikan tugas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Bisa jadi Amru pulang sementara Nabi hendak memberangkatkan yang lain.

Haris menghadap Nabi setelah memberi salam. Nabi bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi antara kaumnya dengan Bani Tamim. Haris bercerita bahwa peperangan pernah terjadi pada masa Jahiliyah antara mereka dengan Bani Tamim dan kemenangan milik Rabi'ah. Haris juga menyampaikan kepada Nabi tentang seorang wanita yang dibawanya dari Rabadzah dan wanita itu berasal dari Bani Tamim. Wanita itu sedang menunggu di pintu menantikan izin masuk. Maka Rasulullah mengizinkannya masuk. Pada saat itu Haris
menyampaikan permintaannya yang merupakan titipan dari kaumnya. Haris meminta kepada Rasulullah agar dibuat pembatas antara Rabi'ah dengan Tamim, dengan memberikan wilayah Dahna' kepada Rabi'ah karena ia adalah wilayah mereka pada masa Jahiliyah.

Begitu wanita tua dari Tamim ini mendengar ucapan Haris, dia langsung emosi dan marah. Dia berkata kepada Rasulullah untuk membela kaumnya, "Ke mana engkau memaksa mudhormu?" (Yakni, suku Mudhor mau engkau kemanakan, jika engkau memberikan Dahna' kepada Rabi'ah?)

Pada saat itu Haris menyadari telah melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan kaumnya dengan membawa wanita ini kepada Rasulullah. Ternyata dia adalah seterunya. Maka Haris berperibahasa, "Domba membawa kematiannya." Maksudnya adalah aku dengan wanita ini ibarat domba yang memikul beban di punggungnya di mana di situlah kematiannya. Kemudian Haris berkata, "Aku membawa wanita tua ini, aku tidak tahu jika dia adalah musuhku." Kemudian Haris tidak ingin menghadap Rasulullah seperti utusan 'Ad.

Ini adalah peribahasa lain yang diucapkan oleh Haris. Orang-orang Arab bilang, "Fulan seperti utusan kaum 'Ad." Ini adalah peribahasa yang diucapkan bagi utusan yang membawa sial. Dia diutus untuk mendatangkan kebaikan bagi kaumnya, tetapi justru dia pulang membawa bencana. 'Ad adalah salah satu kabilah Arab kuno. Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud. Mereka mendustakannya, lalu mereka tertimpa kekeringan dan kelaparan. Mereka mengutus salah seorang pembesar mereka ke tanah suci Makkah agar orang ini meminta hujan bagi mereka di tanah suci dengan harapan permintaannya dikabulkan.

Orang-orang yang telah dikunci mata hatinya, seperti mereka, mengira bahwa berperilaku kepada Allah seperti berperilaku kepada raja-raja yang dzalim, harus ada utusan salah seorang pemimpin atau pemuka mereka walaupun utusan itu bertabiat kasar, berjiwa fajir, penuh dengan kibir dan kesombongan, seperti orang ini.Orang-orang yang mengenal Allah, ketika mereka berdoa dan memohon kepada Allah dalam kesulitan dan musibah (seperti dalam shalat istisqa') mereka mendahulukan seorang laki-laki shalih yang tekun beribadah dan taat kepada Tuhannya, serta teguh di atas perintah-Nya, bukan laki-laki fajir yang bertabiat keras, tidak becus berdoa dan memohon kepada Allah.

Utusan 'Ad ini pergi ke Tihamah untuk meminta hujan bagi kaumnya yang sedang dalam musibah berat. Dia melewati Muawiyah bin Bakar. Dia bermukim padanya selama satu bulan, minum khamr, dan menikmati nyanyian dua penyanyi wanita tersohor yang dikenal dengan Al-Jarodatan.

Lihatlah utusan ini. Dia bermain-main dan bernikmat ria dengan syahwat dan kesenangannya sendiri, melupakan tugas yang dibebankan kaumnya kepadanya. Dia sibuk dengan nafsu pribadi.

Setelah puas dan kenyang, dia pergi ke gunung Tahamah untuk memohon hujan dengan lafazh yang mengisyaratkan kondisi kejiwaan yang ada pada dirinya. Dia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pergi kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya, dan tidak kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah, berikanlah hujan kepada 'Ad seperti apa yang telah engkau berikan."

Beginikah doa? Di mana kepasrahan kepada Allah dan tawadhu' di depan kebesaran-Nya? Di mana tahmid dan memuliakan-Nya serta pujian kepada-Nya? Sepertinya laki-laki ini tidak sedang berbicara kepada Tuhan Yang Agung, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kuat, Maha Membalas, dan Maha Berkuasa. Begitukah dia berkata kepada Allah? Dia sama sekali tidak menyampaikan hajat khusus dengannya. Yang diminta hanyalah memberi hujan sebagaimana biasa. Dia tidak meminta hujan rahmat, tidak pula hujan yang membawa berkah. "Berikanlah hujan kepada 'Ad sebagaimana biasa." Dia meminta bahwa yang penting hujan, tanpa peduli hujan rahmat atau hujan adzab.

Beberapa kelompok awan berjalan di atas kepalanya. Lalu dipanggil dari awan agar dia memilih satu dari kelompok awan yang dilihatnya. Maka dia memilih awan yang paling hitam. Sudah tak becus berdoa, tak becus pula memilih. Dia memilih awan adzab.

Maka dikatakan kepadanya, "Ambillah dalam bentuk abu dan lebih halus dari abu." (Yakni, debu yang halus dibawa oleh angin kencang yang menghancurkan segala sesuatu yang didatanginya, termasuk kaum laki-laki itu). Dan angin ini keadaannya seperti yang Allah sampaikan di dalam kitab-Nya. Termasuk kesialan laki-laki ini adalah bahwa dia berdoa untuk orang yang memuliakan pengutusannya. Bisa jadi orang itu tertimpa seperti apa yang menimpa kaum 'Ad.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Manusia kadang-kadang menyerahkan urusan mereka kepada orang yang pandir dan tidak bisa menunaikan kebaikan bagi mereka. Maka dia pulang dengan membawa malapetaka, seperti utusan 'Ad yang mengemban tugas dengan buruk. Dia salah berdoa dan salah memilih. Akibatnya, kaum binasa dengan doanya dan pilihannya yang sama-sama buruk.
  2. Menyamakan diri dengan umat-umat dan kisah-kisah terdahulu sebagaimana yang dilakukan oleh Haris ketika dia mendapati dirinya melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Jiwa manusia menyukai mendengar kisah-kisah orang-orang terdahulu. Rasulullah dengan kapasitas ilmu dan pengetahuannya mendengar cerita utusan 'Ad dari Haris, padahal beliau lebih tahu darinya.

Sumber: KISAH-KISAH SHAHIH DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, Karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor

Ashim bin Amirat-Tamimi dan Pasukan Berani Mati

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash R.a telah memutuskan niatnya untuk menyeberangi sungai dengan menaiki kuda dan mengerahkan seluruh kekuatannya dalam menaklukkan wilayah Madain, ia pun sadar bahwa dia harus mempunyai persiapan kekuatan energi yang super demi menguasai jembatan yang terletak di seberang sungai tersebut. Dengan demikian sebagian besar pasukan muslimin yang menyeberang akan terlindungi (selamat).

Sa’ad berkata, "Siapakah yang akan memulai dan menjamin keselamatan kami semua dari serangan yang dilancarkan dari (al- Furadh)nama tempat di arah seberang sungai– sehingga kita bertemu dengan musuh, agar mereka tidak mencegahnya keluar?"

Dengan suka rela Ashim mengajukan diri dan diikuti oleh 600 orang pasukan. Kemudian Sa’ad menjadikan Ashim sebagai pemimpin mereka. Pasukan tersebut mulai bergerak, sehingga tiba di tepi sungai Dajlah (Tigris).

Ashim berkata kepada pasukannya, "Siapa yang merasa tertantang bersamaku untuk menjadi orang pertama yang menaklukkan laut ini, sehingga kita mampu menyelamatkan al-Furadh dari seberang sana?"

Kemudian 60 pasukan berkuda itu bangkit, mereka inilah yang diberi nama Pasukan Berani Mati. Ashim membagi pasukan berkuda menjadi dua bagian, pasukan berkuda betina dan pasukan berkuda jantan. Ashim menuju pinggir sungai, kemudian menyeru kepada mereka yang masih ragu menyeberang, "Apakah kalian merasa takut menyeberangi air yang setetes ini?" Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ كِتَابًا مُؤَجَّلاً .... {145}

'Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.' (QS.Al-Imran : 145).

Ashim memacu kudanya dan menerobos sungai, disertai pasukannya. Tatkala ia melihat pasukan berkuda musuh juga menerobos ke dalam sungai, maka mereka bertanding ditengah sungai. Lalu Ashim menyeru, "Pasukan tombak, majulah, bidiklah mata." Mereka bertempur dan saling menikam. Pasukan berkuda menguasai wilayah Persi, lalu kaum muslimin mengikuti mereka dan berhasil membunuh sebagian besar pasukan musuh. Sementara jika di antara musuh ada yang selamat maka mata mereka buta karena terkena tikaman. (Tarikh ath-Thabari, 3/120.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

Tabi'in


Allah Azza Wa Jalla berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."(QS.At-Taubah:100)

1.Abdullah bin Amir Rah.a : Imam Qira’at dan Ijtihad dari Syam
2.Abdullah bin Katsir Rah.a : Guru para pembaca Al-Qur’an
3.Abdullah bin Munkadir Rah.a : kelezatan dunia tinggal 3 yaitu shalat jama’ah, shalat malam, orang-orang shaleh
4.Abdurrahman Al-Ghafiqi Rah.a : Tombak jihad yang terhunus
5.Abu Abdurrahman as-Sulami Rah.a : Pembaca Al-Qur’an terbaik warga Kufah
6.Abu Amr bin Al-Ala Rah.a : Ilmuwan yang zuhud
7.Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits Rah.a : Ahli ibadah dari suku Quraisy
8.Abu Hanifah an-Nu’man Rah.a : Ulama Tampan, Cerdas dan Wara’
9.Abu Muslim al-Khaulani Rah.a : Teladan dalam menyuarakan kebenaran
10.Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf Rah.a : Hakim adil dari Madinah
11.Abu Sulaiman Rah.a : Ahli Shalat malam
12.Abu Wail Syaqiq bin Salamah Rah.a : Perpaduan Ilmu dan Amal
13.Abu al-Aswad Rah.a : Pelopor ilmu Nahwu dan Harakat Al-Qur’an
14.Ahnaf bin Qais Rah.a : Pemimpin Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab
15.Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash Rah.a : Putri pendekar Islam
16.Aisyah binti Thalhah Rah.a : Murid terkemuka Ummul Mukminin Aisyah R.a
17.Aisyah binti Utsman Rah.a : Dermawan seperti Ayahnya
18.Al-A’masy Sulaiman bin Mihran Rah.a : Banyak ilmu dan ibadah
19.Ali Zainal Abidin Rah.a : Ikhlas dalam berbuat
20.Alqamah bin Qais Rah.a : Seorang alim Rabbani
21.Amir bin Abdillah at-Tamimi Rah.a : Ahli zuhud dari bashrah
22.Amr bin Dinar Rah.a : Syaikh dari Makkah
23.Amrah binti Abdurrahman Rah.a : Murid terbaik Ummul Mukminin Aisyah R.a
24.Ashim bin Abu Najud Rah.a : Imam para Qari
25.Aswad bin Yazid Rah.a : Banyak berpuasa, Sholat, berhaji
26.Asy-Sya’bi Rah.a : Murid dari 500 guru
27.Atha’ bin Abi Rabbah Rah.a : Mufti Masjidil Haram
28.Atikah binti Yazid Rah.a : Mahramnya 12 Khalifah
29.Ayyub as-Sakhtiyani Rah.a : Pemimpin Ulama dan pemuda bashrah
30.Dzakwan bin Kaisan Rah.a : Si burung merak ahli Fiqh
31.Fathimah binti Abdul Malik Rah.a : Istri Khulafaur Rasyidin Kelima
32.Fathimah binti Ali Rah.a : Putri bungsu Ali bin Abi Thalib R.a
33.Fathimah binti al-Husain Rah.a : Cucu dua calon penghuni syurga
34.Fathimah binti al-Mundzir Rah.a : Guru bagi suaminya yg juga seorang Tabi’in
35.Hafshah binti Abdurrahman Rah.a : Cucu Abu Bakar ash-Shiddiq R.a
36.Hafshah binti Sirin Rah.a : Rajin berpuasa dan Dermawan
37.Hamzah bin Hubaib az-Zayyat Rah.a : Pedagang Minyak yang Ahli Al-Qur’an
38.Harim bin Hayyan Rah.a : Penjaga kuda Umar bin al-Khathab R.a
39.Hasan al-Bashri Rah.a : Bermain diantara wewangian Kenabian
40.Hindun binti al-Muhallab Rah.a : Istri dermawan sang Gubernur
41.Humaidah binti an-Nu’man Rah.a : Perang Syair dengan sang suami
42.Ibrahim bin an-Nakha’I Rah.a : Putra Kuffah yang ikhlas
43.Ikrimah Maula Ibnu Abbas Rah.a : Ahli Tafsir dimasanya
44.Iyyas bin Mu’awiyah al-Muzani Rah.a : Sebuah ikon kecerdasan
45.Ja’far bin Muhammad bin Ali Rah.a : ‘Dilahirkan’ Abu bakar Dua kali
46.Khairah ibu Hasan al-Bashri Rah.a : Lebih cerdik dari anaknya
47.Kharijah bin Zaid bin Tsabit al-Anshari Rah.a : Berhati-hati dalam berfatwa
48.Lubabah binti Abdullah bin Abbas Rah.a : Memakai nama neneknya
49.Maimun bin Mihran Rah.a : Sekretaris Umar bin Abdul Aziz Rah.a
50.Maisun binti Bahdal Rah.a : Ibu Yazid bin Muawiyah Rah.a
51.Makhul Rah.a : Imam dari kota Syam
52.Malik bin Dinar Rah.a : Menceraikan dunianya dengan talak tiga
53.Masruq bin al-Ajda’ Rah.a : Masuk islam saat Rasulullah masih hidup
54.Muadzah binti Abdullah Rah.a : Istri ahli ibadah yang rajin ibadah
55.Muhammad al-Hanafiyyah Rah.a : Tumbuh dibawah asuhan Ayah
56.Muhammad bin al-Munkadir Rah.a : Sang dermawan yang doanya dikabulkan
57.Muhammad bin Muslim az-zuhri Rah.a : Ahli Mufti Ilmu
58.Muhammad bin Sirin Rah.a : Ulama Salaf yang kharismatik
59.Muhammad bin Wasi’ Rah.a : Pemilik doa Mustajab
60.Mujahid bin Jubair Rah.a : Guru ahli Qira’at dan tafsir
61.Musa bin Nushair Rah.a : Menjinakan khalifah Barbar
62.Muttharrif bin Abdullah bin as-Syikhkhir Rah.a : Seorang ahli hikmah dan doa
63.Nafi’ al-Madani Rah.a : tercium aroma wangi dari mulutnya
64.Nailah binti al-Farafishah Rah.a : Teladan dalam kesetiaan
65.Najasyi (Ashhamah bin abjar) Rah.a : Wakil Rasulullah di Habasyah (Ethiopia)
66.Qasim bin Muhammad Rah.a : Satu dari tujuh Ahli Fiqh Madinah
67.Qatadah bin Da’amah Rah.a : Teladan bagi para Ulama tafsir dan Hadits
68.Rabbat binti Umru al-Qais Rah.a : Istri cucu Rasulullah
69.Rabi’ bin Haitsam Rah.a : Seorang Tabi’in yang Wara’
70.Rabi’ bin Ziyad Rah.a : Penakluk kota Manadzir
71.Rabiah ar-Ra’yi Rah.a : Putera Mujahid ahli ilmu
72.Raja’ bin Haywah Rah.a : Si lidah Emas
73.Ramlah binti Muawiyah Rah.a : Puncak keluhuran, Keturunan dan Kehormatan
74.Ramlah binti Zubair Rah.a : Putri pendamping Nabi
75.Rufa’I bin Mihran (Abul Aliyah) Rah.a : Mendapat apel dari Anas bin Malik R.a
76.Said bin Jubair Rah.a : Potret keteguhan seorang Ulama
77.Said bin al-Musayyib Rah.a : Menolak lamaran untuk menjadi Khalifah
78.Salamah bin Dinar (Abu Hazim al-A’raj) Rah.a : Seorang ahli hikmah
79.Salim bin Abdullah bin Umar Rah.a : Berguru pada Sang Ayah
80.Salma binti Khashafah Rah.a : Pemilik ide cemerlang dan firasat tajam
81.Saudah binti Ammarah Rah.a : Orator yang penyair
82.Shafiyyah binti Abi Ubaid Rah.a : Istri yang mendamba cinta suami
83.Shilah bin Asyyam Rah.a : Harimau takut kepadanya
84.Sukainah binti al-Hushain Rah.a : Putri dari keturunan suci
85.Sulaiman bin Yasar Rah.a : Ahli Fiqh yang Rupawan
86.Syuraih al-Qadhi Rah.a : Sisi nyata keadilan Islam
87.Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah Rah.a : Imam Ahli Hadits
88.Umar bin Abdul Aziz Rah.a : Khalifah Rasyidah Kelima
89.Ummu Ashim binti Ashim Rah.a : Putri pemerah susu
90.Ummu Darda ash Shughra Rah.a : Ahli Fiqh yang bijaksana
91.Ummu Kultsum binti Ali Rah.a : Istri Umar bin al-Khaththab R.a
92.Ummu Muslim al-Khaulaniyyah Rah.a : Yang taat pada suaminya
93.Ummu Sinan binti Khaitsamah Rah.a : Banyak berbicara tentang kebenaran
94.Ummu al-Banin binti Abdul Aziz Rah.a : Istri dan saudara Khalifah
95.Ummu Khair binti al-Huraisy Rah.a : Pemilik kata indah yang berani
96.Ummu Kultsum binti Abu Bakar Rah.a : Istri Thalhah bin Ubaidillah R.a
97.Urwah bin az-Zubair Rah.a : Kakinya digergaji karena menolak Khamar ( arak)
98.Utbah bin Ghulaim Rah.a : Menangis karena Allah
99.Uwais bin Amir al-Qarni Rah.a : Seorang zuhud yang syahid
100.Wahb bin Munabbih Rah.a : Tokoh bijak nan santun
101.Zadzan Rah.a : Seorang ulama besar generasi tabi’in
102.Zainab binti Ali Rah.a : Saksi tragedi Karbala
103.Zarqa binti Adiy Rah.a : Orator Perang Shiffin
104.Zirr bib Hubaisy Rah.a : Imam teladan kota Khuffah

Monday, December 6, 2010

Mu’adz bin Jabal R.a (Wafat 18 H)


Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muadz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muadz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.

Setelah kota Makkah didatangi oleh Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.
Lantas beliau mewasiatkan kepada Muadz dengan bersabda : “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“, Kemudian Muadz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wassalam. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Muadz tidak lagi dapat melihatnya.

Muadz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofyan untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muadz bin Jabal, Ubaidah bin As-Shamit, Abu Ayyub Al-Ansary, Ubay bin Kaab dan Abu Darda’ dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu.”

Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayyub telah terlalu tua, sedang Ubay pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina.”

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Shamit di sana, Abu Darda’ pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun. Muaz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.
Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33 tahun .

Sumber:
Disalin dari Biografi Mu’adz dalam Al-Ishabah no.8039 karya Ibn Hajar Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad 3/Q2,120