Friday, October 29, 2010

Kisah Nabiyullah Yunus ‘Alayhi Salam


Kisah Nabiyullah Yunus mengandung keajaiban dan keunikan. Dia dibuang ke laut dan dimakan ikan. Di sanalah dia berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya. Maka Dia menyelamatkan dan menjaganya dari kebinasaan. Dia memerintahkan ikan agar memuntahkannya di tepi pantai. Hadis ini mengandung tambahan keterangan dari apa yang disebutkan oleh Al-Qur'an tentang kisahnya. Ia menjelaskan sebab-sebab mengapa Yunus marah, lalu naik perahu menjauh dari keluarga dan negerinya.

NASH HADIS

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sesungguhnya Yunus menjanjikan adzab kepada kaumnya. Dia memberitakan bahwa ia akan datang kepada mereka dalam tiga hari. Mereka ketakutan, hingga ibu berpisah dengan anaknya. Kemudian mereka keluar dan kembali kepada Allah untuk memohon ampun dari-Nya. Maka Allah menahan adzab dari mereka. Sementara itu Yunus menantikan turunnya adzab dan dia tidak melihat apa pun. Barangsiapa berdusta dan tidak memiliki bukti maka dia dibunuh. Maka Yunus pergi dalam keadaan marah, hingga dia bertemu dengan suatu kaum di atas perahu. Yunus ikut bersama mereka dan mereka mengenalnya. Ketika Yunus naik perahu, perahu itu tiba-tiba terhenti padahal perahu-perahu lainnya berjalan hilir-mudik ke kanan dan ke kiri. Yunus berkata, 'Ada apa dengan perahu kalian?’ Mereka menjawab, ’Entahlah.’ Yunus berkata, ’Akan tetapi, aku tahu. Di atas perahu ini terdapat seorang hamba yang kabur dari Tuhannya. Perahu ini, demi Allah, tidak akan berjalan hingga kalian membuang orang itu.’ Mereka menjawab, ’Kalau kamu, wahai Nabiyullah, maka kami tidak akan melemparkanmu.’ Yunus berkata, ’Buatlah undian. Siapa yang keluar namanya, maka dia harus terjun ke laut.’ Lalu mereka membuat undian. Yunus mengundi mereka tiga kali dan yang keluar selalu namanya. Yunus pun terjun ke laut dan langsung seekor ikan besar telah menantinya. Begitu Yunus terjun, ikan itu langsung menelannya. Ikan itu turun ke dasar laut. Yunus mendengar tasbih batu-batu kecil. "Maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87). Ibnu Mas'ud berkata, "Kegelapan di dalam perut ikan besar, kegelapan laut dan kegelapan malam."

Dia berkata, "Kalau sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia benar-benar dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela." (QS. Al-Qalam: 49)

Dia berkata, "Yunus seperti anak burung yang telanjang dan tidak berbulu, dan Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis labu. Yunus makan dari pohon itu dan berteduh di bawahnya. Pohon itu mengering dan Yunus menangisinya, maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Apakah kamu menangisi sebuah pohon yang mengering dan tidak menangisi seratus ribu orang atau lebih di mana kamu hendak mencelakakan mereka?"

Maka Yunus keluar. Dia bertemu dengan seorang penggembala kambing. Yunus bertanya kepadanya, "Anak muda, darimana kamu?" Dia menjawab, "Dari kaum Yunus." Yunus berkata, "Jika engkau pulang, maka sampaikan salam kepada mereka. Katakan kepada mereka kalau kamu telah bertemu Yunus."

Anak muda itu berkata, "Jika kamu memang benar Yunus, maka tentu kamu tahu bahwa barangsiapa yang berbohong dan dia tidak mempunyai bukti, dia akan dibunuh. Lalu siapa yang bersaksi untukku?" Yunus menjawab, "Saksimu adalah pohon ini dan lembah ini." Anak muda itu berkata, "Perintahkan keduanya." Maka Yunus berkata kepada pohon dan lembah itu, "Jika anak muda ini datang kepada kalian berdua, maka bersaksilah untuknya." Keduanya menjawab, "Ya."

Anak muda itu pulang kepada kaumnya. Dia memiliki saudara-saudara yang melindunginya. Dia menghadap raja dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah bertemu Yunus, dia menyampaikan salam kepada kalian." Maka raja memerintahkan agar anak muda ini dibunuh. Dikatakan kepada raja, "Dia punya bukti." Raja pun mengutus seseorang pergi bersama anak muda itu. Mereka tiba di pohon dan lembah. Anak muda itu berkata kepada keduanya, "Aku bertanya kepada kalian berdua dengan nama Allah, apakah Yunus menjadikan kalian berdua sebagai saksi?" Keduanya menjawab, "Ya." Maka kaumnya pulang dalam keadaan ketakutan. Mereka berkata, "Pohon dan bumi bersaksi untukmu." Mereka mendatangi raja dan menceritakan apa yang mereka lihat. Raja menuntun tangan anak muda itu dan mendudukkannya di singgasananya seraya berkata, "Kamu lebih berhak terhadap kursi ini daripada aku." Maka anak muda itu memimpin mereka selama empat puluh tahun.

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, 11/541, no. 1195, Kitab Fadhail Yunus. Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, Ahmad dalam Az-Zuhd, Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Mas'ud. Dan Hafizh Ibnu Hajar menukil sepenggal darinya dan dia menyatakan bahwa riwayat Ibnu Abi Hatim adalah shahih. Fathul Bari (6/452). Hadis ini dIshahihkan oleh Syaikh Ibrahim Al-Ali dalam Al-Ahadis As-Shahihah min Akhbaril Anbiya, hlm. 122, no. 177.

PENJELASAN HADIS

Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dan Rasul. Allah mewahyukan kepadanya seperti Allah mewahyukan kepada Rasul-Rasul yang lain, "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul." (QS. Ash-Shaffat:139). "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (QS.An-Nisa: 163). Dia termasuk orang-orang shalih yang terpilih. Allah melebihkan mereka dari manusia-manusia yang lain. "Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. Masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat (dimasanya)." (QS. Al-An'am: 86)

Allah telah memberitakan bahwa Yunus meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, "Dan ingatlah Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah." (QS. Al-Anbiya: 87). Dan bahwa dia kabur dengan perahu yang sarat muatan (penuh beban), "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul, ingatlah ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan." (QS. Ash-Shaffat: 139-140)

Rasulullah memberitakan alasan kaburnya Yunus dan bagaimana dia bisa marah. Hal itu karena dia menjanjikan adzab kepada kaumnya setelah sekian lama mereka mendustakan Rasul mereka. Yunus menyatakan bahwa adzab akan turun menimpa mereka setelah tiga hari. Ketika mereka telah yakin bahwa adzab pasti turun, mereka bertaubat dan kembali kepada Allah. Mereka menyesali sikap mereka yang mendustakan Rasul mereka. Dan keadaan mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah di dalam hadis ini, mereka memisahkan anak hewan dari induknya dan anak manusia dari ibunya. Kemudian mereka keluar dan berdoa kepada Allah. Suara mereka bercampur-baur. Mereka berdoa dan ber-tawassul dengan-Nya. Ibu-ibu dan induk-induk hewan berteriak sebagaimana anak-anak berteriak mencari ibu-ibu mereka. Maka Allah menahan
adzab-Nya dari mereka.

Ibnu Katsir berkata, "Ibnu Mas'ud, Mujahid, Said bin Jubair dan banyak ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf berkata, ’Ketika Yunus keluar dari kota mereka, dan mereka yakin adzab akan turun kepada mereka, Allah memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, dan mereka menyesal atas sikap mereka selama ini kepada Nabi mereka. Maka mereka memakai pakaian ibadah dan memisahkan semua ternak dengan anaknya, kemudian mereka berdoa kepada Allah. Mereka mengangkat suara, merendahkan dan menundukkan diri mereka kepada-Nya. Kaum laki-laki, para wanita, anak- anak, laki-laki dan perempuan, serta para ibu, semuanya menangis. Binatang ternak, binatang melata, semuanya bersuara, unta dan anaknya berteriak, sapi dan anaknya melenguh, kambing dan anaknya mengembik. Saat-saat yang mencekam. Lalu Allah dengan daya dan kekuatan-Nya, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya menahan adzab yang hampir menimpa mereka dengan sebab, dan ia telah berputar di atas kepala mereka seperti sepotong malam yang kelam." Oleh karena itu Allah berfirman, "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu."(QS. Yunus: 98)

Allah telah memberitakan kepada kita bahwa iman kaum Yunus berguna bagi mereka setelah adzab hampir turun menimpa mereka, dan Allah pun menariknya padahal ia telah menaungi mereka. Tiga hari yang dijanjikan oleh Yunus kepada kaumnya telah berlalu. Yunus datang untuk melihat terwujudnya janji Allah atas mereka. Mungkin saat itu Yunus menyendiri, tidak bersama kaumnya, maka dia tidak mengetahui taubat dan insafnya mereka. Ketika Yunus menengok mereka, dia mendapati mereka dalam keadaan selamat. Hal ini membuatnya marah. Dan bagi mereka, balasan untuk orang berdusta adalah dibunuh. Maka Yunus kabur karena takut dibunuh.

Yunus terus berjalan hingga mencapai pantai. Dari pengamatan terhadap nash hadis menunjukkan bahwa perginya Yunus ini tanpa izin dari Allah Taala. Oleh karena itu, Allah Tabaraka wa Taala menyatakan bahwa Yunus adalah orang yang abiq [pergi tanpa permisi; pent]. Abiq adalah hamba sahaya yang melarikan diri dari majikannya. "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul, ingatlah ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan." (QS. Ash-Shaffat: 139-140)

Semestinya Yunus harus rela dengan keputusan Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya. Bukan hak seorang hamba untuk marah kepada perbuatan Tuhannya. Yunus juga semestinya tidak pergi tanpa izin-Nya. Oleh karena itu, Allah melarang Rasul-Nya agar tidak seperti orang yang ditelan ikan besar, yaitu Yunus ‘Alayhi Salam. "Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah kamu seperti orang yang berada di dalam perut ikan besar." (QS. Al-Qalam: 48)

Ketika Yunus tiba di pantai, dia mendapati suatu kaum berada di sebuah perahu. Mereka mengenalnya dan membawanya bersama mereka atas dasar permintaannya. Ketika perahu sampai di tengah lautan, ia tiba-tiba terhenti dan tidak bergerak. Ini benar-benar aneh. Perahu-perahu lain di kanan dan kirinya berjalan hilir-mudik, sementara ia sendiri berhenti di atas air dan tidak bergerak. Yunus mengetahui bahwa berhentinya perahu adalah disebabkan oleh dirinya. Dia menyampaikan kepada penghuni perahu tentang sebab berhentinya, karena adanya seorang hamba yang lari dari Tuhannya di perahu mereka, yakni dirinya sendiri. "Ketika dia berlari kepada perahu yang penuh muatan." (QS. Ash-Shaffat: 140). Perahu itu tidak berjalan sementara hamba itu berada di atasnya. Dia harus dibuang ke laut agar perahu bisa berjalan seperti perahu-perahu lainnya. Mereka menolak karena mereka mengetahui bahwa Yunus adalah Nabi Allah yang mempunyai kemuliaan di sisi-Nya.

Yunus berkata kepada mereka, "Lakukanlah undian. Siapa yang mendapatkan undian, maka dialah yang dilempar ke laut." Mereka mengundi. Yunus memperoleh undian, hingga diulang kedua dan ketiga kalinya. Selalu Yunus, dan undian inilah yang dimaksud oleh firman Allah, "Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian." (QS. Ash-Shaffat: 141)

Ketika Yunus mengetahui itu, dia menceburkan dirinya ke laut. Begitu dia sampai di laut, dia langsung disambut oleh ikan besar. Bisa jadi para penumpang perahu itu melihat ikan besar tersebut melahap Yunus, maka mereka yakin kalau Yunus telah mati. Tidak ada seorang pun yang ditelan ikan besar bisa selamat sebelum Yunus, "Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah. Maka dia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela." (QS. Ash-Shaffat: 141-142)
Firman-Nya, "Dalam keadaan tercela," yakni melakukan sesuatu yang mengundang celaan. Dia meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, hanya karena adzabnya tidak turun tanpa izin dari Allah.

Allah memerintahkan ikan agar tidak mencelakai hamba shalih Yunus. Maka ikan besar itu membawanya ke dasar lautan. Yunus dikelilingi oleh beberapa kegelapan:kegelapan dasar laut, kegelapan perut ikan besar, dan kegelapan malam. "Lalu dia menyeru dalam kegelapan-kegelapan." (QS. Al-Anbiya: 87)
Di dalam perut ikan itu Yunus mendengar tasbih kerikil dan hewan-hewan laut di dasar laut. Dia pun memanggil Tuhannya dengan bertasbih kepada-Nya, mengakui kesalahannya, dan menyesali apa yang dilakukannya. "Maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87)
Allah mendengar panggilannya. "Dzat yang mengetahui rahasia dan bisikan, yang mengangkat kesulitan dan kesusahan, Maha Mendengar suara walaupun ia lemah, Mengetahui yang rahasia walaupun ia tersembunyi, yang menjawab doa-doa walau ia doa yang besar. "Maka Kami menjawab doanya dan menyelamatkannya dari kesulitan." (QS. Al-Anbiya: 88)

Kalau bukan karena tasbihnya dan taubatnya kepada Allah, niscaya dia akan binasa di perut ikan dan diam di dalamnya sampai hari Kebangkitan. "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari Kebangkitan." (QS. Ash-Shaffat: 143-144)

Setelah Yunus berdoa, Allah meminta agar ikan memuntahkannya di pantai. Maka ikan itu melakukan apa yang diminta oleh Allah kepadanya. Yunus dimuntahkan dalam keadaan sakit, kulitnya mengelupas dan tanpa kekuatan. "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedangkan dia dalam keadaan sakit." (QS. Ash-Shaffat: 145)

Rasulullah menjelaskan keadaan Yunus. Kulitnya mengelupas karena berenang di dalam cairan perut ikan, dan ketika ikan itu melemparkannya ke pantai, dia seperti anak burung yang dicabuti bulunya dan tidak tersisa sedikit pun.

Di tempat Yunus terdampar, Allah menumbuhkan pohon sejenis labu. "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu." (QS. Ash-Shaffat: 146)

Pohon sejenis labu (Yaqthin). Orang-orang yang mengetahui pengobatan menyebutkan bahwa Yaqthin ini adalah makanan yang baik bagi tubuh, cocok dengan kondisi perut, dan sesuai dengan pencernaan. Airnya bisa menghilangkan dahaga dan menghilangkan nyeri. Ilmu kedokteran modern menyatakan bahwa pohon ini mudah dicerna, menenangkan, melunakkan, melembabkan, menghaluskan, melancarkan air kencing dan membersihkan hati, juga bisa digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit.

Rasulullah telah memberitakan kepada kita bahwa Yunus bernaung di bawah pohon itu dan makan darinya. Pohon itu mengering setelah beberapa waktu. Maka Nabiyullah Yunus menangisinya, lalu Allah mewahyukan kepadanya untuk memperingatkannya, "Apakah kamu menangisi sebuah pohon yang mengering sementara kamu tidak menangisi seratus ribu orang atau lebih di mana kamu hampir mencelakai mereka?"

Ketika Yunus sehat, dia mulai bisa berjalan dan bergerak. Dia berjalan meninggalkan daerah itu. Dia bertemu dengan seorang anak muda penggembala kambing. Yunus bertanya dari kaum mana anak muda itu berasal. Pemuda itu menjawab, "Dari kaum Yunus." Maka Yunus memintanya agar menyampaikan salam kepada kaumnya dan memberitahu mereka bahwa dia telah bertemu Yunus.

Anak muda ini cerdik. Dia mengerti kebiasaan yang berlaku di dalam kaum Yunus terhadap pendusta. Dia berkata kepada Yunus, "Jika kamu benar Yunus, maka kamu mengetahui bahwa barangsiapa berdusta dan tidak mempunyai bukti, maka dia dibunuh. Lalu siapa yang bersaksi untukku?" Yunus menjawab, "Pohon ini dan dataran ini bersaksi untukmu."

Anak muda itu berkata, "Perintahkan kepada keduanya." (Yakni agar bersaksi untuknya). Yunus berkata kepada keduanya, "Jika anak muda ini mendatangi kalian berdua, maka bersaksilah untuknya." Keduanya menjawab, "Ya." Semua itu dengan kodrat Allah.

Anak muda itu pun pulang kepada kaumnya. Dia mempunyai saudara-saudara yang memiliki kedudukan dan kehormatan di kaumnya, sehingga dia bisa berlindung kepada mereka dari orang-orang yang hendak menyakitinya. Anak muda itu datang kepada raja untuk menyampaikan kalau dirinya telah bertemu dengan Yunus, dan Yunus menitipkan salam kepadanya dan kepada kaumnya. Sepertinya raja dan kaumnya telah yakin kalau Yunus telah binasa, lebih-lebih para penumpang perahu yang pasti telah bercerita tentang Yunus yang mencebur ke laut dan ditelan ikan besar. Maka ucapan anak muda itu tentang Yunus dianggap dusta. Oleh karenanya raja memerintahkan agar anak muda itu dibunuh.

Anak muda itu menyatakan dirinya mempunyai bukti kebenaran. Maka raja mengirim beberapa orang untuk mengiringinya. Ketika mereka tiba di pohon dan di daratan yang diperintahkan oleh Yunus agar bersaksi untuk anak muda itu, Ia berkata kepada keduanya, "Aku bertanya kepada kalian berdua dengan nama Allah, apakah Yunus memerintahkan kalian berdua untuk menjadi saksi bagiku?" Keduanya menjawab, "Ya."

Mereka pulang dalam ketakutan. Mereka menyampaikan apa yang mereka dengar kepada raja. Raja langsung turun dari singgasananya, menuntun anak muda itu dan mendudukkannya di singgasananya seraya berkata, "Kamu lebih berhak dengan tempat ini daripada aku."

Rasulullah telah menyampaikan bahwa anak muda ini memimpin selama empat puluh tahun. Dia menegakkan urusan mereka dan memperbaiki perkara mereka.

Dan nampaknya perintah Yunus kepada anak muda itu, agar menyampaikan salamnya kepada kaumnya dan memberitakan bahwa dirinya masih hidup dengan kesaksian daratan dan pohon itu, adalah untuk menunjukkan kepada kaumnya bahwa dia tidak berdusta kepada mereka. Semua itu terjadi dengan perintah Allah. Kesaksian daratan dan pohon itu bagi anak muda tersebut merupakan kesaksian bagi Yunus bahwa dia adalah Nabi. Dan Nabi adalah orang yang jujur, bukan pendusta.

Dan dalil-dalil yang ada di tangan kita menunjukkan bahwa Yunus pulang kepada kaumnya setelah mereka beriman. Ini berdasarkan firman Allah, "Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih." (QS. Ash-Shaffat: 147). Mereka adalah kaum Yunus, sebagaimana disebutkan dalam hadis ini tentang celaan Allah kepada Yunus yang tidak bersedih karena lebih dari seratus ribu kaumnya yang binasa.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Hendaknya seorang mukmin teguh di atas perintah Allah dan sabar atas hukum-Nya. Dia tidak sepantasnya terburu-buru dalam urusan di mana Allah mempunyai urusan di dalamnya.
  2. Dampak taubat dan iman dalam mengangkat kemarahan Allah, murka dan adzab-Nya sebagaimana yang terjadi pada kaum Yunus, bahwa Allah mengangkat adzab dari mereka ketika mereka beriman.
  3. Kadangkala Allah menguji hamba-hamba-Nya yang shalih jika mereka melakukan penyimpangan terhadap perintah Allah, sebagaimana Dia menguji Yunus. Tetapi Dia menyelamatkan mereka dengan iman, kebaikan dan doa mereka, sebagaimana Yunus selamat dari perut ikan.
  4. Dampak doa dan pengakuan terhadap kesalahan dalam menyelamatkan diri dari kesulitan. Allah menyelamatkan Yunus karena doa dan tasbihnya. "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari Kebangkitan." (QS.Ash-Shaffat: 143-144)
  5. Hadis ini menunjukkan kodrat besar Allah. Dia menghentikan perahu hingga tidak berjalan, padahal perahu-perahu yang ada di kanan kirinya hilir mudik. Dia menahan ikan hingga tidak mematikan Yunus yang berada didalam perutnya.Dia memerintahkannya untuk memuntahkannya di pantai. Dia membuat Yunus mendengar tasbih batu-batu di dasar lautan. Dia membuat pohon dan batu bisa berbicara untuk memberikan kesaksian kepada anak muda.
  6. Allah mengangkat anak muda penggembala kambing sebagai raja. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Anak muda itu memperbaiki kaumnya selama empat puluh tahun, masa yang panjang.
  7. Sejauh mana perubahan yang terjadi pada kaum Yunus. Keadaan mereka menjadi baik dan urusan mereka menjadi lurus. Ini dibuktikan dengan turunnya raja mereka dari tahtanya dan menyerahkannya kepada anak muda penggembala yang bertemu Yunus. Dia menyampaikan salam Yunus kepada kaumnya, serta pohon dan daratan berarti untuknya.
  8. Beratnya dosa dusta. Pada masa umat terdahulu dusta termasuk dosa besar dan pelakunya berhak untuk dibunuh.
  9. Pada masa selain kaum Yunus terdapat orang-orang yang baik. Para penumpang perahu menolak melemparkan Yunus walaupun Yunus selalu menang undian tiga kali, sehingga Yunus sendirilah yang menceburkan diri.
  10. Kesalahan yang dilakukan oleh Yunus tidak menodai kedudukannya dan tidak menurunkan kemuliaannya. Dia termasuk Nabi dan Rasul Allah di mana Dia memilih, mengangkat dan mengunggulkan mereka. Rasul kita telah memperingatkan agar jangan ada orang yang mengklaim atau berkata, "Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta," hanya karena Yunus melakukan kesalahannya. Di dalam Shahih Bukhari Nabi bersabda,"Janganlah kamu berkata, 'Sesungguhnya aku lebih baik daripada Yunus bin Matta." Dalam riwayat lain, "Tidak sepantasnya seorang hamba berkata, 'Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta." Keutamaan doa Dzin Nun. Doanya menjadi doa yang dilontarkan oleh orang-orang yang tertimpa kesulitan, orang-orang yang mandapat kesedihan, dan orang-orang yang dikepung oleh kesusahan dan kesengsaraan. "Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Anbiya: 87)
  11. Bolehnaik perahu sebagaiman Yunus melakukannya.
  12. Sejauh mana kesulitan para Rasul dalam berdakwah kepada Allah dan menghadapi kaum mereka, serta sejauh mana ujian Allah dan cobaan-Nya kepada mereka.
  13. Ketaatan para makhluk kepada Allah. Ikan besar menelan Yunus sebagaimana yang Dia perintahkan dan ia tidak membunuhnya. Begitu Allah memintanya agar memuntahkan, maka ia melakukannya. Ikan-ikan besar dan ikan-ikan lainnya serta batu lautan, semuanya bertasbih kepada Allah dan Yunus mendengar tasbihnya.
  14. Koreksi Al-Qur'an dan hadis terhadap berita-berita yang diselewengkan oleh Bani Israil.
  15. Rasulullah menyebutkan sifat Nabi Yunus pada waktu beliau menunaikan ibadah haji. Sebuah hadis riwayat Muslim dalam Shahih-nya, bahwa Rasulullah mendatangi sebuah jalan di gunung Harsya (gunung dekat Juhfah) dan beliau bersabda, "Seolah-olah diriku melihat Yunus bin Matta di atas unta merah yang gemuk dengan berjubah wol, tali kekang untanya dari sabut, dan dia sedang bertalbiyah."
Sumber:
KISAH-KISAH SHAHIH DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, Karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor

Friday, October 8, 2010

Kisah Wanita Tua Bani Israil


Inilah kisah seorang wanita tua dari Bani Israil yang mendapatkan peluang emas. Dia memanfaatkannya bukan untuk mendapatkan harta dan benda dunia., tetapi untuk meraih derajat tinggi di Surga yang penuh dengan kenikmatan. Musa meminta kepadanya supaya menunjukkan kubur Yusuf untuk membawa jasadnya pada waktu dia keluar dari Mesir bersama Bani Israil. Nenek ini menolak, kecuali dengan syarat bahwa dia harus menyertai Musa pada hari Kiamat di Surga. Maka Allah memberikan apa yang dimintanya. Seperti inilah ambisi-ambisi tinggi, jiwa yang berhasrat meraih derajat-derajat tinggi. Beberapa sahabat berambisi untuk meraih derajat tinggi seperti ini, dan di antara mereka adalah Ukasyah bin Mihshan. Dia memohon kepada Rasulullah agar termasuk dalam tujuh puluh ribu golongan manusia terpilih yang masuk Surga (tanpa hisab). Wajah mereka seperti wajah rembulan di malam purnama. Mereka tidak kencing, tidak buang air besar, tidak meludah. Lalu Rasulullah menyampaikan kepada Ukasyah bahwa dia adalah satu dari mereka. Termasuk juga Abu Bakar yang berambisi dipanggil dari segala pintu Surga. Termasuk pula sahabat yang memohon kepada Rasulullah agar bisa menemaninya di Surga, lalu beliau bersabda kepadanya, "Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud."

NASH HADIS

Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak dari Abu Musa bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam singgah kepada seorang Badui. Beliau dimuliakan, maka beliau bersabda kepadanya,"WahaiBadui,katakan keperluanmu." Dia menjawab, "Ya Rasulullah, seekor unta betina dengan pelananya dan domba betina yang diperah oleh keluargaku." Ini diucapkannya dua kali.

Rasulullah berkata kepadanya, "Mengapa kamu tidak seperti nenek tua Bani Israil?" Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa nenek tua Bani Israil itu?"

Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya Musa hendak berjalan membawa Bani Israil, tetapi dia tersesat di jalan. Maka para ulama Bani Israil berkata kepadanya, 'Kami katakan kepadamu bahwa Yusuf mengambil janji-janji Allah atas kami, agar kami tidak pergi dari Mesir sehingga kami memindahkan tulang-tulangnya bersama kami." Musa bertanya, "Siapa di antara kalian yang mengetahui kubur Yusuf?"

Mereka menjawab, "Yang tahu di mana kuburan Yusuf hanyalah seorang wanita tua Bani Israil." Musa memintanya agar dihadirkan. Musa berkata kepadanya, "Tunjukkan kepadaku di mana kubur Yusuf." Wanita itu menjawab, "Aku tidak mau hingga aku menemanimu di Surga." Rasulullah Musa tidak menyukai permintaannya, maka dikatakan kepadanya, "Kabulkan permintaannya." Musa pun memberikan apa yang diminta. Lalu wanita itu mendatangi sebuah danau dan berkata, "Kuraslah airnya." Ketika air telah surut, wanita itu berkata, "Galilah di sini." Begitu mereka menggali, mereka menemukan tulang-tulang Yusuf. Begitu ia diangkat dari tanah, jalanan langsung terlihat nyata seperti cahaya pada siang hari."

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak (2/624), no. 4088. Dia berkata, "Hadis ini sanadnya shahih, dan keduanya (Bukhari Muslim) tidak meriwayatkannya."

PENJELASAN HADIS

Yang memicu Rasulullah untuk menyampaikan kisah tentang wanita tua Bani Israil seperti dalam hadis di atas adalah bahwa seorang Badui ditamui oleh Rasulullah, maka dia menghormati dan memuliakannya. Lalu Rasulullah memintanya untuk datang kepadanya agar bisa membalas kebaikan dengan kebaikan. Ketika Badui itu datang, Rasulullah menanyakan hajatnya. Dia pun meminta sedikit harta benda dunia, berupa seekor unta betina dengan pelananya sebagai tunggangan dan domba betina yang bisa diandalkan susunya.

Rasulullah merasa permintaan dan hajat si Badui tersebut remeh, maka beliau menyampaikan hadis tentang wanita tua Bani Israil yang mengutarakan satu permintaan besar kepada Musa manakala kesempatan itu terbuka. Dia tidak mau memenuhi permintaan Musa sebelum Musa menyanggupi permintaannya, yaitu menyertainya di Surga.

Wanita tua ini tidak menuntut emas dan perak dari Rasulnya, dan tidak meminta unta atau sapi atau kambing. Seandainya si Badui itu meminta kepada Rasulullah seperti permintaan wanita ini ketika Rasulullah membuka peluang meminta untuknya, niscaya dia sangatlah beruntung. Doa Rasulullah mustajab. Sekiranya dia meminta doa kepadanya untuk kebaikan Akhirat, niscaya dia akan meraih banyak kebaikan.

Rasulullah memberitakan bahwa sebab persyaratan yang diminta oleh wanita tua ini kepada Musa untuk bisa menemaninya di Surga adalah karena dia mengetahui satu ilmu yang tidak diketahui oleh siapa pun dari Bani Israil. Dia mengetahui tempat kubur Yusuf ‘Alayhi Salam. Dan Yusuf telah mengambil janji kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya dari kalangan Bani Israil agar membawa tulangnya bersama mereka manakala mereka keluar dari bumi Mesir ke tanah suci.

Ketika Allah mengizinkan Musa dan kaumnya agar keluar, mereka tersesat. Musa terheran-heran karenanya. Dia meyakini bahwa pasti ada rahasia dalam urusan ini. Dia bertanya kepada orang-orang yang bersamanya tentang apa yang terjadi. Maka ulama Bani Israil menyampaikan janji yang diambil oleh Yusuf kepada bapak mereka. Pada saat itu Musa bertanya tentang kubur Yusuf agar bisa melaksanakan permintaannya, tetapi tidak seorang pun mengetahui kuburnya kecuali seorang wanita tua Bani Israil. Musa meminta kepadanya untuk menunjukkan kubur Yusuf. Wanita tua ini menolak kecuali jika Musa mengabulkanpermintaannya,dan ketikaMusa menanyakan apa keinginannya, ternyata dia menuntut perkara besar. Dia ingin bersama Musa di Surga.

Musa tidak ingin mengabulkan permintaannya. Mungkin karena dia melihat permintaannya berlebih-lebihan, apa yang dilakukannya tidak sepadan dengan derajat yang diminta, atau bisa jadi karena Musa tidak bisa mengabulkan permintaan atas sesuatu yang bukan wewenangnya. Maka Allah mewahyukan kepadanya supaya mengabulkan tuntutannya. Dan barangsiapa meminta kepada Allah atas perkara-perkara yang tinggi, niscaya Allah mengabulkan permintaannya, walaupun dia tidak mencapai derajat orang-orang yang berhak meraih derajat tersebut. Orang yang mencari Syahadah dengan benar, niscaya Allah menyampaikannya derajat orang-orang yang mati syahid, walaupun dia mati di atas tempat tidurnya. Orang yang meminta derajat ulama atau orang-orang yang dermawan, niscaya Allah menyampaikannya pada derajat mereka, walaupun tidak beramal seperti amal mereka.

Rasulullah menyampaikan kepada kita bahwa, setelah wanita tua ini meraih apa yang diinginkannya, dia mengantarkan Musa dan orang-orangnya ke sebuah danau. Dia meminta agar air danau itu dikuras, lalu mereka pun berhasil mengangkat jasad Yusuf dari tempat tersebut. Manakala mereka mengangkat jasad Yusuf dan membawanya berjalan, jalanan pun menjadi terang bagi mereka seterang siang hari.

VERSI TAURAT

Kisah wanita tua Bani Israil ini tidak terdapat dalam Taurat. Telah disebutkan dalam Safar Takwin, Ishah 50 poin 25, Yusuf meminta janji kepada Bani Israil agar membawa tulang-tulangnya bersama mereka ketika mereka keluar dari kota Mesir. Nashnya adalah, "Dia meminta sumpah Bani Israil dan berkata, 'Allah akan membuat kalian hilang lalu kalian mengangkat tulangku dari sini." Dan dalam Safar Khuruj, Ishah 13 poin 19 terdapat pemberitaan tentang pengambilan tulang-tulangnya oleh Musa pada waktu dia keluar dari Mesir. Dalam poin itu tertulis, "Dan Musa membawa tulang Yusuf bersamanya karena dia telah mengambil janji Bani Israil dengan berkata, 'Sesungguhnya Allah akan membuat kalian hilang lalu kalian membawa tulang-tulangku dari sini bersama kalian."

Taurat telah menyebutkan tersesatnya Bani Israil sewaktu mereka keluar dari Mesir. Hanya saja ia tidak menyatakan kalau hal itu disebabkan oleh tidak diambilnya tulang-tulang Yusuf oleh Bani Israil sebagaimana dijelaskan oleh hadis. Ia justru menyatakan bahwa penyebabnya adalah ketakutan terhadap kembalinya Bani Israil ke bumi Mesir jika terjadi perang dengan tentara Fir'aun (Lihat Safar Khuruj, Ishah 13 poin 17)

Adapun terangnya jalanan bagi mereka, hal itu terjadi sebelum mereka membawa tulang-tulang Yusuf sebagaimana dipahami dari Taurat. Padahal, yang benar adalah seperti dinyatakan oleh hadis, bahwa terbentangnya jalanan terjadi begitu mereka membawa tulang-tulangnya, sehingga mereka bisa melihat jalan mereka dan bisa menelusuri jalan yang benar dalam perjalanan mereka.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Dorongan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya agar mencari derajat-derajat yang tinggi, sebagaimana dilakukan oleh wanita tua tersebut ketika dia meminta kepada Musa. Dalam hadis shahih dari Rasulullah, bahwa beliau meminta sahabatnya agar memohon Firdaus kepada Allah yang merupakan tengah-tengah Surga dan puncak Surga dan atapnya adalah Arasy Allah.
  2. Pemberitaan Rasulullah tentang sebagian kejadian-kejadian secara detail yang terjadi pada ahli kitab dan tidak diketahui oleh mereka. Di antaranya adalah kisah wanita tua ini.
  3. Hadis membenarkan sebagian kejadian dan peristiwa yang disebutkan oleh Taurat.
  4. Adanya wanita-wanita yang baik, pemilik semangat yang tinggi di kalangan Bani Israil.
  5. Berita tentang pengambilan janji oleh Yusuf atas Bani Israil agar memindahkan tulang-tulangnya ke tanah suci, dan berita tentang pemindahan yang dilakukan oleh Bani Israil, akan tetapi kita tidak mengetahui tempat dia dikubur.
  6. Para Nabi dan Rasul dibolehkan mengambil janji kepada para pengikutnya dan para kerabatnya agar melakukan apa yang baik bagi mereka.
  7. Perjanjian yang telah disepakati atas generasi umat pertama berlaku lazim bagi yang datang sesudah mereka. Perjanjian yang diambil oleh Yusuf atas orang-orang yang bersamanya mengikat orang-orang yang datang sesudah itu. Begitu pula janji-janji Bani Israil yang diambil atas generasi pertama mereka dari Allah atau dari Rasul-Rasul mereka adalah lazim atas mereka. Begitu pun janji-janji yang diambil atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan sahabat -sahabatnya.
  8. Para hamba bisa tidak mendapatkan taufik jika mereka tidak menunaikan keinginan dan syariat Allah, sebagaimana Bani Israil yang tersesat ketika mereka meninggalkan tulang-tulang Yusuf pada saat mereka keluar.
  9. Hadis ini tidak bertentangan dengan hadis lain yang shahih, di mana Rasulullah memberitakan bahwa Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi. Karena yang dimaksud dengan tulang -tulang Yusuf adalah jasadnya, bukan karena jasadnya habis dan yang tertinggal hanyalah tulang-tulangnya.
  10. Kurangnya perhatian Bani Israil sejak pertama kali terhadap penghormatan kepada kubur-kubur para Nabi. Buktinya, mereka tidak mengetahui – padahal Musa berada bersama mereka – tempat kubur Nabi Yusuf.
Sumber:
Hadis ini diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak (2/624), no. 4088. Dia berkata, "Hadis ini sanadnya shahih, dan keduanya (Bukhari Muslim) tidak meriwayatkannya."

Friday, August 27, 2010

Kisah Mariyah Al-Qibtiyah R'anha (Sahabat)


Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

Dari Mesir ke Yastrib

Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agama Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersama saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib menghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka memeluk Islam. Mereka pun menerima ajakan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah masjid.

Ibrahim bin Muhammad

Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Khadijah radhiallahu ‘anha. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.

Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim ‘alaihis salam. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gembira.

Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu semakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah mengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah Ta’ala telah menegur lewat firman-Nya :

“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (QS. At-Tahriim:1)

Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi kami.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali radhiallahu ‘anhu menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malam, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sakaratul maut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

“Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perkara yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

Demikianlah keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

Saat Wafatnya

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada tahun ke-16 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.

Sumber:Buku Dzaujatur-Rasulullah

Saturday, August 14, 2010

Kisah Orang Yang Dimaafkan Oleh Allah Karena Dia Memaafkan Hamba-hamba Allah


Ini adalah kisah seorang laki-laki yang tidak mempunyai amal shalih ketika Malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya. Dalam urusan dagang, dia memaafkan orang-orang yang bersangkutan dengannya.

Jika dia memberi hutang dan waktu pembayaran telah
tiba, maka dia memberi kesempatan kepada orang yang mampu hingga dia bisa membayar dan memaafkan orang yang dalam kesulitan. Yang dia harapkan dari perbuatannya ini adalah agar Allah memaafkannya. Maka Allah pun memaafkan dan mengampuni dosa-dosanya karena sifat pemaafnya dalam bermuamalah.



NASH HADIS

Bukhari meriwayatkan dari Hudzaefah berkata, 'Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, 'Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian yang didatangi oleh Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Dia ditanya, 'Adakah kebaikan yang kamu lakukan?' Dia menjawab,
'Aku tidak tahu.' Dikatakan kepadanya, 'Lihatlah.' Dia menjawab, 'Aku tidak mengetahui apa pun. Hanya saja, di dunia aku berjual-beli dengan orang-orang dan membalas mereka. Lalu aku memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang
kesulitan.' Maka Allah memasukkannya ke Surga."

Dalam riwayat Hudzaefah juga, "Para Malaikat menerima ruh seorang laki-laki dari kalangan umat sebelum kalian. Mereka bertanya, 'Apakah kamu melakukan suatu kebaikan?' Dia menjawab, 'Aku memerintahkan para pegawaiku agar memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang tidak mampu.' Maka mereka memaafkannya.''

Dalam riwayat Abu Hurairah dengan lafazh, "Ada seorang saudagar yang memberi hutang kepada orang-orang. Jika dia melihat seseorang dalam kesulitan, dia berkata kepada para pegawainya, 'Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.' Maka Allah
memaafkannya."

TAKHRIJ HADIS

Riwayat pertama diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab keterangan tentang Bani Israil, 6/494, no. 3451.

Riwayat kedua dalam Shahih Bukhari dalam Kitabul
Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang mampu, 4/307, no. 2077. Bukhari meriwayatkan pula dari Abu Hurairah dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu.

Riwayat ketiga dalam Shahih dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu, 4/308, no. 2078.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Hudzaefah, Abu Hurairah dan Abu Mas'ud dalam Kitabul Musaqah, bab keutamaan menangguhkan orang yang tidak mampu, 3/1194, no. 1560-1561.

PENJELASAN HADIS

Allah memberitakan kepada kita bahwa ketika kematian mendatangi seorang hamba dan ajalnya telah tiba, maka Malaikat mendatanginya. Jika dia adalah orang yang beriman, maka Malaikat memberinya berita gembira. Jika dia adalah orang kafir, maka Malaikat bertanya kepadanya, mencelanya, menyiksanya dan menyampaikan berita gembira Neraka. Allah berfirman tentang kematian orang mukmin, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushshilat: 30)

Allah berfirman tentang orang-orang kafir para pendosa ketika ajal menjemput, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).' Para Malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa: 97)

Dalam hadis ini Rasulullah menyampaikan berita tentang seorang laki-laki dari umat sebelum kita yang didatangi oleh Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Malaikat bertanya kepadanya tentang amal kebaikan yang dilakukannya di dunia. Orang ini tidak menemukan amal kebaikan untuk dirinya. Ketika orang ini menjawab tidak satu pun, maka mereka meminta agar meneliti ulang. Dia tetap tidak menemukan amal kebaikan kecuali hanya perniagaan yang menjadi profesinya. Dia memerintahkan para pegawai yang bekerja padanya supaya menangguhkan orang yang mampu dan memaafkan orang yang tidak mampu. Dia menjelaskan alasannya kepada mereka dan berkata, "Semoga Allah memaafkan kita." Maka Allah memenuhi harapannya, memaafkan dan mengampuninya.

Muamalah seperti yang dicontohkan oleh laki-laki ini merupakan muamalah yang diharapkan oleh Islam. Ia didasarkan kepada kemudahan dalam jual-beli dan kelapangan dalam bermuamalah. Menunggu orang-orang yang mampu dan memaafkan orang-orang yang tidak mampu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah berdoa untuk orang yang bersifat demikian, "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berlapang dada jika menjual, berlapang dada jika membeli, berlapang dada jika membayar, dan berlapang dada jika menuntut."

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Keutamaan memberi tempo kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang tidak mampu. Pelakunya yang ikhlas mendapatkan janji maaf dari Allah pada saat bertemu dengan-Nya.
  2. Luasnya rahmat Allah. Hanya dengan amal yang sedikit, seorang hamba bisa mendapatkan pahala besar. Laki-laki ini diampuni dan dimaafkan oleh Allah hanya dengan amalan yang kecil.
  3. Seorang hamba mukmin tidak dikafirkan hanya karena dia melakukan dosa besar. Laki-laki ini tidak melakukan kebaikan kecuali amal ini. Dia meninggalkan kewajiban-kewajiban, namun Allah mengampuni dan memaafkannya.
  4. Pertanyaan seorang Malaikat kepada seorang hamba ketika ia datang kepadanya untuk mencabut nyawanya, sebagaimana laki-laki ini ditanya dan juga sebagaimana yang Allah sampaikan dalam ayat yang kita nukil dalam bab penjelasan.
  5. Menetapkan kaidah besar dalam urusan sifat Allah. Kaidah ini berkata, 'Setiap kesempurnaan tanpa kekurangan yang ditetapkan untuk makhluk, maka Allah lebih berhak.' Di antaranya adalah memaafkan orang-orang dalam bermuamalah. Allah berfirman, "Kami lebih berhak dengan itu daripada dia, maafkanlah dia." Riwayat ini dalam Shahih Muslim.
  6. Boleh jual-beli secara tunda. Laki-laki dalam hadis ini melakukan hal itu. Dia memberi tempo kepada orang yang mampu dan memaafkan yang tidak mampu.
Sumber:
Riwayat pertama diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab keterangan tentang Bani Israil, 6/494, no. 3451.

Riwayat kedua dalam Shahih Bukhari dalam Kitabul
Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang mampu, 4/307, no. 2077. Bukhari meriwayatkan pula dari Abu Hurairah dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu.

Riwayat ketiga dalam Shahih dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu, 4/308, no. 2078.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Hudzaefah, Abu Hurairah dan Abu Mas'ud dalam Kitabul Musaqah, bab keutamaan menangguhkan orang yang tidak mampu, 3/1194, no. 1560-1561.

Sunday, August 1, 2010

Kisah Seorang Alim Yang bertaktik Agar Selamat


Inilah kisah salah seorang ulama Bani Israil. Orang-orang yang tersesat dari kaumnya ingin menjadikannya sandaran dalam menulis kitab palsu yang mereka buat sebagai ganti dari kitab mereka yang diturunkan dari Allah. Maka alim ini menampakkan seolah-olah dia
setuju dengan kitab palsu itu, padahal sebenarnya dia menunjuk kepada kitabullah yang digantungkan di leher di atas dadanya di balik bajunya.

NASH HADIS

Baihaqi meriwayatkan dalam Syuabul Iman dari Abdullah, bahwa ketika Bani Israil mengalami masa yang panjang dan hati mereka menjadi keras, mereka membuat kitab yang diinginkan oleh hati mereka dan dihalalkan oleh lisan mereka. Dan adalah kebenaran
menjadi penghalang bagi mereka untuk mewujudkan banyak ambisi mereka, sehingga mereka membuang kitab Allah di belakang punggung mereka seolah-olah mereka tidak mengetahui.

Dia berkata, "Tunjukkan kitab ini kepada Bani Israil. Jika mereka mengikuti kalian, maka biarkanlah mereka. Jika mereka menyelisihi kalian, maka bunuhlah mereka." Dan dia berkata, "Jangan. Kirimkan dulu kepada si fulan (seorang ulama mereka). Jika dia setuju, maka yang lain pasti mengikuti."

Mereka lalu memanggilnya. Dia kemudian mengambil kertas dan menulis di dalamnya kitabullah, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tanduk dan dikalungkan di lehernya. Dia menutupinya dengan baju, kemudian mendatangi mereka. Mereka menunjukkan
kitab kepadanya. Mereka bertanya kepadanya, "Apakah kamu beriman kepada kitab ini?" Lalu dia menunjuk dadanya (yakni, kitab yang tersimpan di dalam tanduk). Dia menjawab, "Aku beriman kepada ini. Mengapa aku tidak beriman kepada ini?" Mereka lalu melepaskannya.

Dia berkata, "Laki-laki ini mempunyai kawan-kawan yang datang kepadanya. Manakala ajal menjemputnya, mereka mendatanginya. Mereka melepas pakaiannya. Mereka menemukan tanduk yang berisi kitab. Mereka berkata, "Apakah kalian tahu ucapannya, 'Aku beriman
kepada ini. Mengapa aku tidak beriman kepada ini?' Yang dia maksud ini adalah kitab yang ada di tanduk ini. Maka Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh kelompok lebih. Agama terbaik mereka adalah yang mengikuti pemilik tanduk ini."

TAKHRIJ HADIS

Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadis ini dalam Silsilah Al-Ahadis As-Shahihah, (6/436 no. 2694), "Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syuabul Iman (2/439/1-2) dan tanpa ragu sanadnya shahih. Akan tetapi, aku tidak berani menyatakannya marfu’ karena
ia tidak begitu jelas. Meskipun demikian, apa pun hadis ini, ia mempunyai hukum marfu’. Wallahu a'lam."

Hadis ini memiliki pendukung yang sangat singkat. Dari hadis Abu Musa Al-Asy'ari berkata Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Bani Israil menulis sebuah kitab dan membuang Taurat."

PENJELASAN HADIS

Sesungguhnya kebenaran yang Allah turunkan di dalam kitab-kitab-Nya adalah pelindung bagi umat di mana kitab itu diturunkan dari penyimpangan dan kesesatan. Akan tetapi, para pemilik jiwa yang sakit membenci kebenaran dan memusuhinya. Orang-orang dengan
kerusakan dan kejahatan yang telah mendarah daging di dalam jiwa mereka selalu ingin menyesatkan hamba-hamba Allah dengan kesesatan yang jauh. Oleh karena itu, mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyelewengkan kitab ini. Jika gagal, maka mereka membelokkan makna-makna di dalam hati dan pemikiran
manusia.

Rasulullah telah menyampaikan bahwa, ketika iman di hati Bani Israil melemah, kerusakan merajalela di lingkungan mereka, dan orang-orang dzalim lagi rusak menguasai mereka, mereka pun hendak mengganti agama Bani Israil, merubah dan menyelewengkannya,maka mereka menulis kitab yang berisi teori-teori dan prinsip-prinsip yang menyelisihi kandungan kitab mereka yang benar. Mereka hendak membawa Bani Israil agar mengikutinya dan meninggalkan yang diturunkan oleh Allah kepada mereka.

Sekelompok orang yang memiliki kekuasaan di kalangan mereka mengajak kepada penerapan kesesatan melalui cara kekuatan. Siapa yang setuju dengan mereka, maka mereka biarkan. Dan barangsiapa menyelisihi, maka dipenggal lehernya. Begitulah pengikut kekufuran dan kesesatan menerapkan prinsip-prinsip mereka dengan ujung pedang, seperti yang dilakukan oleh komunisme terhadap orang-orang yang mereka kuasai pada zaman ini. Ribuan juta orang telah dibantai demi tercapainya penerapan prinsip-prinsip mereka.

Seorang yang cerdik di kalangan Bani Israil tidak setuju dengan cara kekuatan. Dia mengusulkan kepada kawan-kawannya agar kitab ini ditunjukkan kepada salah seorang ulama mereka. Sepertinya alim ini adalah orang yang berpengaruh dan berpengikut. Jika dia setuju maka Bani Israil akan mengikuti dan berjalan di belakang
mereka.

Kelihatannya alim ini mengetahui tipu muslihat makar mereka. Ketika mereka memanggilnya, dia telah mempersiapkan diri. Dia menulis kitab yang diturunkan dari Allah dan meletakkannya di sebuah tanduk. Lalu dia menggantungkannya di lehernya dan ditutupi oleh baju yang dipakainya. Mereka menyodorkan kitab yang mereka buat kepadanya. Mereka bertanya, "Apakah kamu beriman kepada ini?" Dia menunjuk dadanya tempat tanduk penyimpan kitab tersebut, lalu dia menjawab, "Aku beriman kepada ini. Mengapa aku tidak beriman kepada ini." Mereka memahami bahwa yang dia maksud adalah kitab mereka. Mereka tidak menyadari bahwa maksudnya adalah kitab yang dia tunjuk di dadanya.

Perbuatan seperti ini pernah dilakukan oleh Najasyi yang beriman kepada Rasulullah. Dia menulis kitab yang berisi akidahnya yang benar. Manakala para pemberontak dari kalangan kaumnya mendatanginya dan menuduhnya telah merubah agamanya dan meninggalkan agama Isa, dia pun ditanya tentang akidahnya. Dia menjawab, "Inilah agamaku." Seraya menunjuk kepada kitab yang
tergantung di dadanya.

Murid-muridnya mengetahui sikapnya yang sebenarnya. Ketika dia wafat dan mereka hendak memandikannya, mereka melihat kitab di dadanya. Mereka mengetahui akidahnya yang sebenarnya. Dan yang dia maksudkan adalah kitab tersebut manakala dia berkata, "Aku beriman kepada ini, dan mengapa aku tidak beriman kepada ini."

Sesudahnya, orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh kelompok lebih, dan kelihatannya alim ini selamat di sisi Allah dengan perbuatannya tersebut Tauriyah-nya berguna baginya di sisi Allah.

Sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam telah berusaha meletakkan buku-buku di mana mereka menyelewengkan Kitabullah dengannya atau mewajibkan kaum muslimin untuk mengikutinya dan meninggalkan Al-Qur'an, atau mereka meletakkan jalan-jalan dan prinsip-prinsip yang dijadikan semacam keyakinan dan prinsip yang membelokkan arah Islam dan pengikutnya. Dan karena semua itu, maka telah banyak kaum muslimin yang tersesat. Namun Al-Qur'an tetap terjaga dan tidak tergantikan sebagaimana kitab-kitab yang lain. Dengan ini Al-Qur'an selalu menjadi batu karang kokoh yang menghadang arus kekufuran dan komunisme sepanjang sejarah.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Hadis ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi secara sengaja menyelewengkan kitab mereka, dan bahwa mereka menulis kitab yang menyelisihi Taurat. Al-Qur'an telah menyatakan peristiwa ini di beberapa ayat, seperti yang dinyatakan oleh hadis.
  2. Para pengikut kebatilan bekerja untuk mengeluarkan manusia dari agama mereka dan merusak mereka agar bisa bebas bermain nafsu syahwat dan mendzalimi manusia, serta melakukan apa yang mereka inginkan untuk mereka lakukan tanpa ada yang melarang.
  3. Seorang muslim agar bisa lolos dari kebatilan, dia boleh menggunakan seperti cara yang digunakan oleh alim tersebut dan Najasyi. Allah telah membolehkan perbuatannya. Allah telah memberi kesaksiannya bahwa golongan yang mengikuti alim ini adalah kelompok Bani Israil terbaik. Dan sepertinya Allah memaafkan orang seperti alim ini dengan perbuatan seperti itu, jika kerusakan atau keburukan telah menyebar dan berkonfrontasi dalam menghadapinya tidaklah berguna. Seandainya alim ini menghadapi kelompok yang berkuasa dengan perlawanan, niscaya kepalanya menggelinding. Seandainya Najasyi melawan kaumnya, niscaya kepala dan kerajaannya akan runtuh. Dan tanpa ragu, keberadaan alim ini dan penguasa itu di atas keyakinan keduanya mengandung banyak kebaikan. Si alim mempunyai pengikut yang teguh di atas kebenaran, sedangkan Najasyi menggunakan kekuatannya untuk menolong Islam dan menjaga kaum muslimin.
  4. Perbedaan Bani Israil menjadi tujuh puluh kelompok lebih.
Sumber:
Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadis ini dalam Silsilah Al-Ahadis As-Shahihah, (6/436 no. 2694), "Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syuabul Iman (2/439/1-2) dan tanpa ragu sanadnya shahih. Akan tetapi, aku tidak berani menyatakannya marfu’ karena
ia tidak begitu jelas. Meskipun demikian, apa pun hadis ini, ia mempunyai hukum marfu’. Wallahu a'lam."