Monday, December 13, 2010

Tabi'in


Allah Azza Wa Jalla berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."(QS.At-Taubah:100)

1.Abdullah bin Amir Rah.a : Imam Qira’at dan Ijtihad dari Syam
2.Abdullah bin Katsir Rah.a : Guru para pembaca Al-Qur’an
3.Abdullah bin Munkadir Rah.a : kelezatan dunia tinggal 3 yaitu shalat jama’ah, shalat malam, orang-orang shaleh
4.Abdurrahman Al-Ghafiqi Rah.a : Tombak jihad yang terhunus
5.Abu Abdurrahman as-Sulami Rah.a : Pembaca Al-Qur’an terbaik warga Kufah
6.Abu Amr bin Al-Ala Rah.a : Ilmuwan yang zuhud
7.Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits Rah.a : Ahli ibadah dari suku Quraisy
8.Abu Hanifah an-Nu’man Rah.a : Ulama Tampan, Cerdas dan Wara’
9.Abu Muslim al-Khaulani Rah.a : Teladan dalam menyuarakan kebenaran
10.Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf Rah.a : Hakim adil dari Madinah
11.Abu Sulaiman Rah.a : Ahli Shalat malam
12.Abu Wail Syaqiq bin Salamah Rah.a : Perpaduan Ilmu dan Amal
13.Abu al-Aswad Rah.a : Pelopor ilmu Nahwu dan Harakat Al-Qur’an
14.Ahnaf bin Qais Rah.a : Pemimpin Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab
15.Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash Rah.a : Putri pendekar Islam
16.Aisyah binti Thalhah Rah.a : Murid terkemuka Ummul Mukminin Aisyah R.a
17.Aisyah binti Utsman Rah.a : Dermawan seperti Ayahnya
18.Al-A’masy Sulaiman bin Mihran Rah.a : Banyak ilmu dan ibadah
19.Ali Zainal Abidin Rah.a : Ikhlas dalam berbuat
20.Alqamah bin Qais Rah.a : Seorang alim Rabbani
21.Amir bin Abdillah at-Tamimi Rah.a : Ahli zuhud dari bashrah
22.Amr bin Dinar Rah.a : Syaikh dari Makkah
23.Amrah binti Abdurrahman Rah.a : Murid terbaik Ummul Mukminin Aisyah R.a
24.Ashim bin Abu Najud Rah.a : Imam para Qari
25.Aswad bin Yazid Rah.a : Banyak berpuasa, Sholat, berhaji
26.Asy-Sya’bi Rah.a : Murid dari 500 guru
27.Atha’ bin Abi Rabbah Rah.a : Mufti Masjidil Haram
28.Atikah binti Yazid Rah.a : Mahramnya 12 Khalifah
29.Ayyub as-Sakhtiyani Rah.a : Pemimpin Ulama dan pemuda bashrah
30.Dzakwan bin Kaisan Rah.a : Si burung merak ahli Fiqh
31.Fathimah binti Abdul Malik Rah.a : Istri Khulafaur Rasyidin Kelima
32.Fathimah binti Ali Rah.a : Putri bungsu Ali bin Abi Thalib R.a
33.Fathimah binti al-Husain Rah.a : Cucu dua calon penghuni syurga
34.Fathimah binti al-Mundzir Rah.a : Guru bagi suaminya yg juga seorang Tabi’in
35.Hafshah binti Abdurrahman Rah.a : Cucu Abu Bakar ash-Shiddiq R.a
36.Hafshah binti Sirin Rah.a : Rajin berpuasa dan Dermawan
37.Hamzah bin Hubaib az-Zayyat Rah.a : Pedagang Minyak yang Ahli Al-Qur’an
38.Harim bin Hayyan Rah.a : Penjaga kuda Umar bin al-Khathab R.a
39.Hasan al-Bashri Rah.a : Bermain diantara wewangian Kenabian
40.Hindun binti al-Muhallab Rah.a : Istri dermawan sang Gubernur
41.Humaidah binti an-Nu’man Rah.a : Perang Syair dengan sang suami
42.Ibrahim bin an-Nakha’I Rah.a : Putra Kuffah yang ikhlas
43.Ikrimah Maula Ibnu Abbas Rah.a : Ahli Tafsir dimasanya
44.Iyyas bin Mu’awiyah al-Muzani Rah.a : Sebuah ikon kecerdasan
45.Ja’far bin Muhammad bin Ali Rah.a : ‘Dilahirkan’ Abu bakar Dua kali
46.Khairah ibu Hasan al-Bashri Rah.a : Lebih cerdik dari anaknya
47.Kharijah bin Zaid bin Tsabit al-Anshari Rah.a : Berhati-hati dalam berfatwa
48.Lubabah binti Abdullah bin Abbas Rah.a : Memakai nama neneknya
49.Maimun bin Mihran Rah.a : Sekretaris Umar bin Abdul Aziz Rah.a
50.Maisun binti Bahdal Rah.a : Ibu Yazid bin Muawiyah Rah.a
51.Makhul Rah.a : Imam dari kota Syam
52.Malik bin Dinar Rah.a : Menceraikan dunianya dengan talak tiga
53.Masruq bin al-Ajda’ Rah.a : Masuk islam saat Rasulullah masih hidup
54.Muadzah binti Abdullah Rah.a : Istri ahli ibadah yang rajin ibadah
55.Muhammad al-Hanafiyyah Rah.a : Tumbuh dibawah asuhan Ayah
56.Muhammad bin al-Munkadir Rah.a : Sang dermawan yang doanya dikabulkan
57.Muhammad bin Muslim az-zuhri Rah.a : Ahli Mufti Ilmu
58.Muhammad bin Sirin Rah.a : Ulama Salaf yang kharismatik
59.Muhammad bin Wasi’ Rah.a : Pemilik doa Mustajab
60.Mujahid bin Jubair Rah.a : Guru ahli Qira’at dan tafsir
61.Musa bin Nushair Rah.a : Menjinakan khalifah Barbar
62.Muttharrif bin Abdullah bin as-Syikhkhir Rah.a : Seorang ahli hikmah dan doa
63.Nafi’ al-Madani Rah.a : tercium aroma wangi dari mulutnya
64.Nailah binti al-Farafishah Rah.a : Teladan dalam kesetiaan
65.Najasyi (Ashhamah bin abjar) Rah.a : Wakil Rasulullah di Habasyah (Ethiopia)
66.Qasim bin Muhammad Rah.a : Satu dari tujuh Ahli Fiqh Madinah
67.Qatadah bin Da’amah Rah.a : Teladan bagi para Ulama tafsir dan Hadits
68.Rabbat binti Umru al-Qais Rah.a : Istri cucu Rasulullah
69.Rabi’ bin Haitsam Rah.a : Seorang Tabi’in yang Wara’
70.Rabi’ bin Ziyad Rah.a : Penakluk kota Manadzir
71.Rabiah ar-Ra’yi Rah.a : Putera Mujahid ahli ilmu
72.Raja’ bin Haywah Rah.a : Si lidah Emas
73.Ramlah binti Muawiyah Rah.a : Puncak keluhuran, Keturunan dan Kehormatan
74.Ramlah binti Zubair Rah.a : Putri pendamping Nabi
75.Rufa’I bin Mihran (Abul Aliyah) Rah.a : Mendapat apel dari Anas bin Malik R.a
76.Said bin Jubair Rah.a : Potret keteguhan seorang Ulama
77.Said bin al-Musayyib Rah.a : Menolak lamaran untuk menjadi Khalifah
78.Salamah bin Dinar (Abu Hazim al-A’raj) Rah.a : Seorang ahli hikmah
79.Salim bin Abdullah bin Umar Rah.a : Berguru pada Sang Ayah
80.Salma binti Khashafah Rah.a : Pemilik ide cemerlang dan firasat tajam
81.Saudah binti Ammarah Rah.a : Orator yang penyair
82.Shafiyyah binti Abi Ubaid Rah.a : Istri yang mendamba cinta suami
83.Shilah bin Asyyam Rah.a : Harimau takut kepadanya
84.Sukainah binti al-Hushain Rah.a : Putri dari keturunan suci
85.Sulaiman bin Yasar Rah.a : Ahli Fiqh yang Rupawan
86.Syuraih al-Qadhi Rah.a : Sisi nyata keadilan Islam
87.Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah Rah.a : Imam Ahli Hadits
88.Umar bin Abdul Aziz Rah.a : Khalifah Rasyidah Kelima
89.Ummu Ashim binti Ashim Rah.a : Putri pemerah susu
90.Ummu Darda ash Shughra Rah.a : Ahli Fiqh yang bijaksana
91.Ummu Kultsum binti Ali Rah.a : Istri Umar bin al-Khaththab R.a
92.Ummu Muslim al-Khaulaniyyah Rah.a : Yang taat pada suaminya
93.Ummu Sinan binti Khaitsamah Rah.a : Banyak berbicara tentang kebenaran
94.Ummu al-Banin binti Abdul Aziz Rah.a : Istri dan saudara Khalifah
95.Ummu Khair binti al-Huraisy Rah.a : Pemilik kata indah yang berani
96.Ummu Kultsum binti Abu Bakar Rah.a : Istri Thalhah bin Ubaidillah R.a
97.Urwah bin az-Zubair Rah.a : Kakinya digergaji karena menolak Khamar ( arak)
98.Utbah bin Ghulaim Rah.a : Menangis karena Allah
99.Uwais bin Amir al-Qarni Rah.a : Seorang zuhud yang syahid
100.Wahb bin Munabbih Rah.a : Tokoh bijak nan santun
101.Zadzan Rah.a : Seorang ulama besar generasi tabi’in
102.Zainab binti Ali Rah.a : Saksi tragedi Karbala
103.Zarqa binti Adiy Rah.a : Orator Perang Shiffin
104.Zirr bib Hubaisy Rah.a : Imam teladan kota Khuffah

Monday, December 6, 2010

Mu’adz bin Jabal R.a (Wafat 18 H)


Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muadz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muadz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.

Setelah kota Makkah didatangi oleh Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.
Lantas beliau mewasiatkan kepada Muadz dengan bersabda : “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“, Kemudian Muadz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wassalam. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Muadz tidak lagi dapat melihatnya.

Muadz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofyan untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muadz bin Jabal, Ubaidah bin As-Shamit, Abu Ayyub Al-Ansary, Ubay bin Kaab dan Abu Darda’ dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu.”

Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayyub telah terlalu tua, sedang Ubay pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina.”

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Shamit di sana, Abu Darda’ pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun. Muaz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.
Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33 tahun .

Sumber:
Disalin dari Biografi Mu’adz dalam Al-Ishabah no.8039 karya Ibn Hajar Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad 3/Q2,120

Tuesday, November 2, 2010

Zaid bin Tsabit R.a (wafat 45 H)


Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.

Perjalanan hidupnya

Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”.

Zaid juga sebagai penulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak 3 kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah Abu Bakar dan Umar sebagai mana dijelaskan dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Zaid bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al-Khaththab. Lalu Abu Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak para penghapal al-Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al-Quran yang hilang maka agar al-Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al-Quran”.

Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam anNasa’I dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.

Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata,” Telah wafat orang terbaik dari umat ini semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”.

Wafatnya

Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H)

Sumber: Disalin Zaid bin Tsabit dalam dari biografi Shafwah ash shafwah ibnu Jauzi, Al-Istia’aab Ibn Al-Barr

Saturday, October 30, 2010

Kisah Rabi’ah ar-Ra’yi Rah.a (Tabi'in)


”Manakah yang lebih baik dan kau sukai antara uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”(Ummu Rabi’ah)

Rabi’ bin Ziyad al-Haritsi adalah gubernur khurasan, pembebas Sajistan dan seorang panglima pemberani. Setelah berhasil membebaskan negeri Sajistan, Rabi’ bin Ziyad bermaksud menyempurnakan kemenangannya dengan menaklukan negeri dibelakang sungai Seyhun. Kali ini ia didampingi seorang anak buahnya bernama Farukh. Atas izin Allah, Rabi’ bin Ziyad dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran. Namun dua tahun setelah keberhasilannya itu, maut menjemputnya. Dia kembali kepada Allah dengan tenang.

Adapun Farukh, kembali ke madinah, dalam usia yang masih muda sekitar 30 tahun. Ia membeli sebuah rumah yang sangat sederhana dan menikah dengan seorang gadis pilihannya. Ia merasakan kebahagiaan yang selama ini diimpikannya. Rumah tinggal yang nyaman dan istri yang shalihah. Namun, semua itu tak mampu meredam kerinduannya untuk berjihad di jalan Allah.

Suatu hari, seorang khatib jum’at memberi kabar gembira tentang berbagai kemenangan yang diraih kaum muslimin. Ia mendorong para jama’ah untuk terus melanjutkan perjuangannya. Dengan semangat tinggi, Farukh bergabung dengan pasukan perang yang akan berangkat. Saat itu istrinya sedang hamil tua. Ia hanya meninggalkan uang 30.000 dinar.”Pergunakanlah secukupnya untuk keperluanmu dan bayi kita nanti kalau sudah lahir,”ujarnya seraya berpamitan.

Beberapa bulan setelah keberangkatan Farukh, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki tampan. Sang ibu menyambutnya penuh bahagia sehingga melupakan perpisahannya dengan suaminya. Bayi laki-laki itu diberi nama Rabi’ah

Begitu menginjak dewasa, Rabi’ah diserahkan kepada beberapa guru untuk diajarkan ilmu agama dan akhlak. Untuk itu, sang ibu memberikan imbalan yang memadai dan hadiah bagi guru-guru itu. Setiap kali ia melihat ada kemajuan ilmu putranya, setiap kali pula ia menambahkan hadiah untuk pengajar Rabi’ah.

Rabi’ah terus menimbah berbagai ilmu pengetahuan. Ia tidak bosan-bosan belajar dan menghafal apa yang diberikan gurunya. Akhirnya, ia menjadi seorang yang alim yang pandai dan terkenal. Sampai akhirnya terjadilah sebuah peristiwa yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Malam terang dimusim panas. Seorang prajurit tua berjalan memasuki Madinah. Usianya hampir 60 tahun, tapi langkahnya masih tegap dan mantap. Dia menyusuri lorong-lorong menuju sebuah rumah. Dalam benaknya bergejolak berbagai pertanyaan. Apakah yang sedang dilakukan istrinya dirumah? Apakah anaknya sudah lahir? Laki-lakikah atau perempuan? Dijalan-jalan masih terlihat orang lalu-lalang. Namun tak seorang pun yang memperdulikannya. Ia memandang sekeliling.”Ah, ternyata telah banyak perubahan,”gumamnya.

Tiba-tiba, tanpa disadari ia telah berada didepan sebuah pintu yang terbuka. Spontan ia menyeruak masuk. Seorang pemuda, pemilik rumah yang mengetahui seorang laki-laki tua menyandang senjata masuk kerumahnya tanpa permisi segera melompat menghadang. Para tetangga yang mendengar keributan itu segera berdatangan. Termasuk seorang ibu tua yang sedang tidur terbangun.

Melihat siapa yang datang, ibu tua itu segera sadar dan berteriak,” Rabi’ah, lepaskan!Dia ayahmu. Wahai Abu Abdurrahman, dia anakmu. Jantung hatimu,”

Mendengar seruan itu, keduanya segera berdiri. Hampir tak percaya mereka berpelukan, melepaskan rindu. Mereka benar-benar tak menyangka pertemuan itu akan berlangsung begitu rupa.

Kini Farukh duduk bersama istrinya. Dia menuturkan segala pengalamannya selama dimedan jihad. Namun, dalam hati, istrinya tidak bisa tenang karena bingung menjelaskan pengeluaran uang yang ditinggalkan suaminya sebelum berangkat.”Bagaimana aku menjelaskannya? Apakah suamiku akan percaya kalau uang sebesar 30.000 dinar itu habis untuk biaya pendidikan anaknya?”ujar sang istri dalam hati.

Dalam keadaan bingung begitu, tiba-tiba Farukh berkata,”Wahai istriku, aku membawa uang 4000 dinar. Gabungkan dengan uang yang kutinggalkan dulu.”

Sang istri semakin bingung. Ia diam tak menjawab ucapan suaminya.

“Lekaslah, mana uang itu? Tanya Farukh lagi.

Dengan wajah agak pucat dan bibir bergetar, istrinya menjawab,”uang itu kuletakkan ditempat yang aman. Beberapa hari lagi akan kuambil. InsyaAllah.”

Adzan Shubuh tiba-tiba berkumandang. Istrinya menarik napas lega.

Farukh bergegas berwudhu’,lalu keluar sambil bertanya,”mana Rabi’ah?

“Dia sudah berangkat lebih dahulu ke masjid?”jawab istrinya.

Setibanya dimasjid, ruangan sudah penuh. Para jama’ah mengelilingi seorang guru yang sedang mengajar mereka.Farukh berusaha melihat wajah guru itu, namun tidak berhasil karena padatnya jamaah. Ia terheran-heran melihat ketekunan mereka mengikuti majelis syaikh tersebut.

“Siapakah dia sebenarnya? Tanya Farukh kepada salah seorang jamaah.

“Orang yang engkau lihat itu adalah seorang alim besar. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, Laits bin Sa’ad, dan lainnya. Disamping itu, dia sangat dermawan dan bijaksana. Dia mengajar dan mengharapkan ridha Allah semata,”jawab orang itu.

“Siapakah namanya?”tanya Farukh.

“Rabi’ah ar-Ra’yi.”

“Rabi’ah ar-Ra’yi.?” Tanya Farukh keheranan.

“Benar.”

“Dari manakah dia berasal?”

“Dia putra Farukh, Abu Abdurrahman. Dia dilahirkan tak lama setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai Mujahid fi sabilillah. Ibunyalah yang membesarkan dan mendidiknya,”orang itu menjelaskan.

Tanpa terasa air mata Farukh menetes karena gembira. Ketika kembali kerumah ia segera menemui istrinya. Melihat suaminya menangis, sang istri bertanya,”ada apa , wahai Abu Abdurrahman?”

“Tidak apa-apa. Saya melihat Rabi’ah berada dalam kedudukan dan kehormatan yang tinggi yang tidak kulihat pada orang lain,”jawab Farukh.

Ibu Rabi’ah melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjelaskan amanat suaminya berupa uang 30.000 dinar. Ia segera berkata, ”Manakah yang lebih baik dan kau sukai antara uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

“Demi Allah, inilah yang lebih kusukai daripada dunia dan segala isinya,”Jawab Farukh.

“Ketahuilah suamiku. Aku telah menghabiskan semua harta yang engkau amanatkan untuk biaya pendidikan putra kita. Apakah engkau rela dengan apa yang telah kulakukan? Tanya ibu Rabi’ah.

“Aku rela dan berterima kasih atas namaku dan nama seluruh kaum muslimin,”jawab Farukh gembira.

Sumber: 101 Kisah Tabi'in

Friday, October 29, 2010

Kisah Ummu Muslim al-Khaulaniyyah Rah.a (Tabi'in)


Kehidupan ibadah, zuhud dan upaya mencari ridha Allah adalah permulaan Ummu Muslim menjalani hidup bersama suaminya. Siapapun yang cemerlang permulaannya maka cemerlang juga akhirnya. Kisah hidup Ummu Muslim ini contohnya.

Ummu Muslim al-Khaulani adalah seorang wanita dari kalangan wanita tabi’in. Ummu Muslim adalah seorang wanita tabi’in yang terhormat, mempunyai pengaruh besar, dan memiliki kapasitas keilmuan dan pengetahuan yang memadai, selain sifat zuhud dan ketakwaan

Suaminya adalah Abu Muslim al-Khaulani ad-Darani, seorang tokoh tabi’in yang zuhud sepanjang masa, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Tsaub(Salah satu dari delapan tabi’in yang zuhud). Ia masuk islam pada masa hidup Rasulullah SAW, namun ia tidak sempat bertemu dengan beliau. Ia datang ke Madinah saat pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu Muslim meriwayatkan hadits dari Umar, Muadz bin Jabal, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Ubaidah dan Ubadah bin ash-Shamit R.a. Banyak tokoh besar tabi’in dimasanya meriwayatkan hadits darinya. Ia menjadi orang bijak bagi umat. Allah memberikan padanya kemuliaan dan keilmuan. Ia mendatangi Syam lalu tinggal di Daraya(sebuah desa yang terletak sekitar tiga mil dari pusat kota Damaskus)

Ummu Muslim al-Khaulaniyyah terkenal dengan nama panggilan ini. Kepopulerannya mendapatkan tambahan dari suaminya Abu Muslim al-Khaulani. Di samping itu, ia sendiri seorang yang gemar ibadah dan shalih. Waktunya penuh dengan berbagai macam ketaatan. Ia selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri dan duduk baik diwaktu sore maupun pagi. Karenanya, ia menempati kedudukan tinggi diantara wanita-wanita tabi’in. Nama baiknya berkumandang didunia dan menjadi teladan baik bagi siapapun yang ingin seperti dirinya.

Ummu Muslim bukan termasuk wanita yang terfokus secara penuh dengan kewajiban-kewajiban agama semata dengan meninggalkan kewajiban duniawi. Ia adalah seorang wanita produktif dan mandiri. Ia sangat pandai menyulam dan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan tangan. Dengan ini semua, ia termasuk wanita yang rajin beribadah dan bekerja dengan mandiri.

Ummu Muslim menjual hasil sulamannya dan memberikannya kepada suaminya untuk dibelikan keperluannya. Suatu ketika, ia memberikan kepada suaminya uang satu dirham guna membeli tepung. Lalu sang suami menyedekahkan. Namun Allah memuliakannya dengan kejernihan sanubarinya.

Atha’ al-Khurasani mengisahkannya, istri Abu Muslim al-Khaulani berkata kepada suaminya,”Wahai Abu Muslim, kita tidak punya tepung lagi.”

Abu Muslim berkata,”Apakah engkau mempunyai sesuatu(uang)?”
Ia menjawab,”Satu dirham. Kita mendapatkannya dari menjual sulaman.”
Abu Muslim berkata,”Berikanlah kepadaku dan berikan juga kantong wadah tepung!”

Abu muslim pergi kepasar dan berdiri didepan seorang penjual bahan makanan. Tiba-tiba ia didatangi oleh pengemis dan berkata, “Wahai Abu Muslim! Berilah sedekah padaku.” Si pengemis itu terus menerus meminta. Akhirnya ia menyerahkan satu-satunya uang dirham itu. Ia meraih kantongnya lalu mengisinya dengan serbuk kayu bersama debu. Lalu ia menuju rumahnya. Kemudian ia meletakkan kantong itu dibalik pintu kemudian pergi menuju tempat ibadahnya.

Ummu Muslim membuka kantong itu dan ternyata isinya tepung putih bersih. Ia pun membuat adonan untuk dijadikan roti. Saat Abu Muslim datang di malam hari, Ummu Muslim telah meletakkan kue dan roti dihadapannya. Ia berkata,”Dari manakah engkau mendapatkan ini, wahai Ummu Muslim?”

Ia menjawab,”Dari tepung yang engkau bawa siang tadi.” Maka ia pun memakannya sambil menangis.

Ummu Muslim termasuk wanita yang paling berbakti kepada suaminya. Ia memberikan pelayanan dan menjadi teman terbaik yang menyertai suami. Tapi ada wanita tetangganya yang menjadikan hubungan Ummu Muslim rusak dengan suaminya. Abu Muslim mendoakan atas wanita itu hingga menjadi buta. Belakangan, wanita itu datang padanya untuk mengakui kesalahannya dan bertaubat. Maka Allah mengembalikan penglihatannya kembali.

Abu Nuaim al-Ashbhani menuturkan rincian kisah ini:
Setiap kali Abu Muslim al-Khaulani pulang kerumahnya dari masjid, ia selalu mengucapkan takbir didepan pintu tempat tinggalnya. Lalu istrinya menyahut dengan takbir pula. Ketika sampai diberanda rumahnya, ia bertakbir lalu istrinya pun menyahutinya dengan takbir. Ketika sampai dipintu rumahnya, ia bertakbir dan diikuti jawaban takbir oleh istrinya.

Suatu malam ia pulang. Lalu ia bertakbir didepan pintu tempat tinggalnya. Namun tak ada seorangpun yang menyahutnya. Ketika sampai diberanda rumah, ia pun bertakbir, namun tak ada seorang pun yang menyahutinya. Tatkala ia sampai di pintu rumahnya, ia bertakbir dan lagi-lagi tidak ada seorang pun yang menjawabnya.

Padahal biasanya ketika ia masuk rumah, istrinya meraih surban dan kedua sandalnya lalu memberikannya makanan . Ketika masuk rumah, ternyata tak ada lampu penerangan. Ketika diperiksa, ternyata istrinya sedang duduk dirumah sedang termenung mengorek-ngorek sebatang dahan ditangannya.

Abu Muslim bertanya kepadanya,”Ada apa denganmu?”

Ia menjawab,” Engkau mempunyai kedudukan tinggi dimata Muawiyah bin Abu Sufyan sedangkan kita tidak punya pembantu(budak). Seandainya engkau meminta diberikan budak, ia pasti memberikannya kepadamu.

Abu Muslim sadar bahwa dalam masalah ini ada sesuatu yang tersembunyi. Ia menengadahkan wajahnya kelangit seraya berkata,” Ya Allah, siapapun yang merusak istriku maka butakanlah mata penglihatannya.”

Abu Nuaim al-Ashbhani menceritakan,”Sebelumnya ada seorang wanita datang menemui Ummu Muslim. Wanita itu berkata,”suamimu mempunyai kedudukan penting di sisi Muawiyah. Seandainya engkau katakan padanya agar minta diberikan budak untuk melayanimu, pasti ia akan memberikannya hingga kalian dapat hidup sejahtera.”

Ketika wanita itu sedang duduk dirumahnya malam hari, tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap. Ia berkata,”ada apa gerangan dengan lentera-lentera kalian?apakah padam?

Saat itu ia menyadari dosanya dan campur tangannya dalam kehidupan Ummu Muslim. Maka ia mengahadap Abu Muslim seraya menangis dan memintanya berdoa kepada Allah agar mengembalikan penglihatnnya. Abu Muslim merasa kasihan lalu memohon kepada Allah dengan sepenuh hati agar Allah mengembalikan penglihatannya. Selanjutnya Ummu Muslim kembali ke kehidupan yang bersih bersama suaminya Abu Muslim.

Abu Muslim al-Khaulani selalu menautkan hatinya kepada Allah atas dasar yang benar. Ia pun membimbing istrinya dan mengajarkan bahwa tidaklah terhenti keperluan duniawi yang dimintakan seseorang kepada Allah kecuali ia sendiri akan beruntung dengan kepastian Allah tentang hal itu. Allah Azza Wa Jalla berfirman:”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.(QS. Ath-Thalaq:2-3)

Diantara tanda kemenangan dan keberhasilan, yaitu mengembalikan sesuatu hanya kepada Allah. Bukan pada manusia. Sebab, manusia tidak memiliki apa-apa. Mungkin Ummu Muslim tidak mengetahui kenyataan ini kecuali setelah beberapa lama. Sejak saat itu, terkuak sudah hakikat dari apa yang selama ini diajarkan oleh suaminya.

Ini adalah peristiwa yang benar-benar terjadi. Suatu ketika, ia meminta keperluan dan menyuruhnya untuk datang kepada Muawiyah. Namun, ia justru datang ke masjid dan meminta pertolongan pada Allah demi memenuhi kebutuhannya. Allah memberikan kehormatan dan nikmat kepadanya. Selanjutnya Abu Muslim mengucapkan syukur atas apa yang telah Allah kuasakan dan berikan kepadanya.

Dalam kitab Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir menuturkan kisah Abu Muslim bersama istrinya Ummu Muslim. Ummu Muslim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Muslim, sekarang musim dingin telah tiba. Kita tak punya bahan pakaian, makanan dan juga cadangan lauk pauk, sepatu dan juga kayu.”

Abu Muslim berkata,”Apa yang engkau inginkan, wahai Ummu Muslim?”

Ia menjawab,”Engkau datang kepada Muawiyah dan dia orang yang paling mengerti dirimu. Engkau bisa memberitahukan kebutuhanmu dan kesulitan kita.”

Abu Muslim berkata,”Saya malu meminta sesuatu pada selain Allah!”

Namun, Ummu Muslim terus menerus meminta. Ketika ia semakin banyak berkata-kata, Abu Muslim berkata,” Mengapa engkau?siapkanlah perlengkapan untukku!”

Lalu Abu Muslim menuju masjid dan berdiam seharian penuh. Ketika banyak orang menunaikan sholat Isya dan masjid menyisakan dirinya sendirian, ia bersimpuh diatas kedua lututnya, lalu berkata,”Ya Allah! Engkau Maha Mengetahui keadaanku dalam hubungan antara diriku denganMu. Engkau telah mendengar pernyataan Ummu Muslim. Ia memintaku mengahadap Muawiyah sedangkan seluruh simpanan kekayaan dunia ada padaMu. Muawiyah hanyalah satu dari makhluk-makhlukMu. Sesungguhnya saya memohon kepadaMu dari kebaikanMu yang banyak dan mudah.” Lalu ia menuturkan kebutuhan-kebutuhannya

Kemudian ia meneruskan,” sesungguhnya simpanan kekayaanMu tak akan pernah habis, dan kebaikanMu tak akan berkurang. Engkau Maha Mengetahui diriku. Engkau telah mengetahui bahwa Engkau paling saya cintai dari selainMu. Apabila Engkau memberikannya padaku maka saya pasti banyak memujiMu atas pemberian itu. Apabila Engkau menghalangiku maka bagiMu segala puji yang banyak.

Sementara ada seorang dari keluarga Muawiyah masih berada dimasjid, mendengarkan semua perkataan dari Abu Muslim. Lalu ia keluar dari masjid menuju tempat Muawiyah, serta memberitahukan kejadian dan perkataan yang telah ia dengar.

Muawiyah berkata,”Tahukah engkau siapa gerangan dirinya?Dia adalah Abu Muslim. Bukankah engkau telah mendata apa yang ia katakan?”

Orang itu menjawab,”Benar, wahai Amirul Mukminin.”

Muawiyah berkata,”Maka lipat gandakan baginya setiap yang ia minta dan cepat-cepatlah memberikannya sekarang kerumahnya. Jangan samapi besok, kecuali semua ini berada dirumahnya dengan setiap sesuatu digandakan.”

Ia membawa semua yang ia katakan. Ketika semua barang itu tiba dihadapan Ummu Muslim, ia memuji Muawiyah,” saya masih mengumpat orang tua itu agar mendatanginya, namun ia menolak permintaanku itu.”

Ketika Abu Muslim selesai melaksanakan sholat shubuh, ia pulang dengan penuh keyakinan kepada Tuhannya. Ketika sampai dirumahnya, ia mendapati barang-barang yang melimpah terlihat kehitam-hitaman dari kejauhan.

Ummu Muslim berkata kepadanya,”Wahai Abu Muslim, lihatlah apa yang telah dihadiahkan oleh Amirul Mukminin kepadamu?”

Dia menjawab,”sungguh jauh sekali pikiranmu! Engkau mengkufuri nikmat dan tidak bersyukur kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Sungguh demi Allah, saya tidak datang kerumah Muawiyah, juga tidak berbicara pada pengawalnya dan tidak pula menyampaikan keperluanku kepadanya. Ini tidak lain adalah bagian dari Allah yang telah Dia hadiahkan kepada kita. Sungguh segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya.

Sejak saat itu Ummu Muslim menyadari perhatian besar suaminya dalam mendidiknya akan hakikat tawakal kepada Allah. Sejak saat itu pula, ia tidak lagi meminta sesuatu padanya. Ia sangat menjaga diri untuk selalu berada dalam jalan hidup yang telah diajarkan suaminya.

Penulis buku tarikh Daraya menuturkan setelah kematian suaminya, Ummu Muslim menikah dengan Amr bin Abd al-Khaulani. Ia seorang zuhud, rajin ibadah, wara’ dan bertakwa. Suatu ketika Ummu Muslim ditanya,” Manakah yang terbaik diantara dua lelaki itu?

Ia menjawab,”Abu Muslim. Sebab ia tidak meminta kepada Allah kecuali Allah memberinya. Adapun Amr bin Abd, ia seorang yang diterangi cahaya dalam Mihrab(tempat shalatnya) hingga saya memenuhi keperluannya dengan penerangan cahayanya, tanpa bantuan lentera,”

Ummu Muslim al-Khaulaniyyah termasu wanita tabi’in terbaik yang menjadi teladan dan panutan. Semoga Allah merahmati Ummu Muslim dan menerangi kuburnya. Sungguh kisah hidupnya menjadi obat hati bagi yang mendengarnya.

Sumber: 101 Kisah Tabi’in