Saturday, May 29, 2010

Kisah Khairah Ibu Hasan al-Bashri Rah.a


“Lebih Cerdik Dari Anaknya…..”
Ia adalah wanita Tabi’in yang dititahkan keabadian dalam dunia pengetahuan. Tak lain karena kapasitas ilmu, pengetahuan fiqh dan sikap zuhudnya. Disamping itu, ia adalah ibu yang melahirkan dua pemuda yang mengukir sejarah dunia dalam bidang ilmu, keutamaan, sikap zuhud dan sastra.

Anak pertamanya dan sangat terkenal adalah al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar al-Anshari al-Bashri at-Tabi’in, syaikh bagi penduduk Bashrah, dan juga pemimpin umat dizamannya dalam bidang ilmu.

Muhammad bin Sa’ad menceritakan tentang dirinya,”Hasan seorang yang mumpuni, alim, luhur, ahli fiqh, tsiqah, terpercaya, gemar beribadah, perilaku yang baik, banyak ilmunya, fasih tutur katanya, tampan dan gagah.”

Imam adz-Dzahabi mengatakan,” Ia lelaki yang sempurna bentuknya, sedap dipandang mata, tampan dan termasuk pemberani.

Sedangkan anak keduanya adalah Said bin Abi al-Hasan Yasar al-Bashri, termasuk tabi’in yang tsiqat, mendapatkan hadis dari ibunya dan merupakan hasil dari didikan ibunya. Imam Nasa’I dan lainnya menyatakan ketsiqahannya. Ia juga termasuk yang terbaik dari kalangan orang-orang zuhud dan gemar beribadah. Ia dijuluki rahib karena sikap religiusnya, dan hadis-hadisnya terdapat dalam kumpulan hadis.

Sementara ibu dari kedua tokoh terbaik ini adalah Khairah, ibu al-Hasan al-Bashri. Ia dikenal sebagai budak Ummul Mukminin Ummu Salamah. Khairah juga termasuk wanita terhormat Tabi’in, dan juga tsiqah, dan termasuk wanita yang mendapatkan ilmu dari stri-istri Rasulullah SAW. Suaminya adalah Yasar, seorang budak dari pertempuran “Maisan”(lahan luas yang rimbun dan banyak pohon kurma, wilayah dataran rendah Bashrah) tinggal dimadinah dan dimerdekakan disana. Tidak lama kemudian ia dinikahkan dengan wanita terbaik, Khairah, budak Ummu salamah. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab.

Khairah, termasuk istri terbaik bersama suaminya. Sebab ia mengurusi keperluannya tanpa menangguhkan pengabdiannya kepada Ummu Salamah. Allah memberikan keturunan terbaik dan shalihah bagi pasangan suami isteri ini. Keturunan yang menjaga kehidupan keduanya pada masa yang akan dating lewat ilmu yang menghiasi manusia dan menghidupkan ingatannya. Khairah melahirkan anaknya, al-Hasan, dua tahun sebelum akhir pemerintahan Umar bin Khaththab pada 21 H.

Dalam didikan istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah, Khairah lulus dan meriwayatkan hadis darinya. Sebagaimana juga ia meriwayatkan hadisdari Aisyah. Sebaliknya dari Khairah banyak tokoh-tokoh tabi’in baik laki-laki maupun perempuan yang meriwayatkan hadis. Dari kalangan laki-laki diantaranya kedua anaknya al-Hasan dan Said, Ali bin Zaid bin Jud’an (Ia adalah seorang ahli fiqh dan ulama generasi tabi’in, selain seorang penghafal dan imam hadis) dan Muawiyah bin Qurrah al-Muzani (Ia adalah Imam yang cermat, beliau adalah ayah dari hakim terkenal sekaligus tabi’in yang bernama Qadhi Iyyas, Ia meriwayatkan hadis dari banyak sahabat dan tabi’in senior) yang semuanya adalah tokoh terdepan tabi’in yang tsiqah.

Adapun dari kalangan wanita adalah Hafshah binti sirin pemimpin wanita tabi’in, Ummul Hudzail al-Anshariyah, sebagaimana yang dikatakan Iyyas bin Muawiyah,”Saya tak menemukan orang yang aku lebih aku hargai darinya.” Ia menghafal Al-Qur’an saat umurnya 12 tahun. Bagi Iyyas ia lebih baik daripada al-Hasan al-Bashri dan juga saudaranya sendiri Muhammad bin Sirin dalam bidang ilmu dan ibadah.

Khairah meriwayatkan bahwa ia pernah melihat Ummu Salamah , istri Rasulullah SAW, melaksanakan shalat dengan ,mengenakan baju panjang dan penutup kepala. Banyak sekali tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadis darinya kecuali Imam Bukhari.

Khairah seorang yang setia kepada Ummu Salamah. Ia adalah budak miliknya. Selalu melayaninya dan melaksanakan pekerjaan rumahnya, atau perhatian pada anak-anaknya, mengurusi sekaligus merawat mereka. Al-Hasan meriwayatkan dari ibunya Khairah bahwa ibunya menyusukannnya pada Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW.

Tampaknya, Khairah sangat serius dalam melayani Ummu Salamah. Demikian sebaliknya Ummu Salamah memperlakukannya dengan sangat baik setiap mengutusnya untuk keperluan dirinya. Seperti disebutkan bahwa Ummu Salamah pernah menyuruh Khairah untuk suatu keperluan, sehingga ia tidak sempat mengurus anaknya al-Hasan yang saat itu masih menyusu ibunya, hingga al-Hasan kecil menangis. Maka Ummu Salamah menyibukkan dirinya dengan memberikan susunya hingga al-Hasan menyusu pada kedua wanita. Sehingga banyak Ulama yang berpendapat bahwa kecemerlangan al-Hasan adalah buah keberkahan dari susuan wanita yang terhubung kepada Rasulullah SAW.

Seperti yang dikisahkan juga bahwa Ummu Salamah mengajak keluar al-Hasan yang masih kecil kepada para Shahabat Rasulullah SAW. Mereka semua mendoakannya. Suatu ketika ia mengajaknya keluar menemui Umar bin Khaththab R.a. Ia pun mendoakannya,”Ya Allah, berikanlah pemahaman mendalam pada agama dan jadikan ia di cintai oleh umat manusia.”

Dengan semua ini, Khairah memperoleh keberkahan pada putranya al-Hasan berkat doa dari Umar bin Khathab, dan menjadikannya sebagian dari tabi’in terbaik. Seseorang apabila melihat al-Hasan berguna baginya, dan meskipun tidak melihat amal perbuatannya dan tidak mendengar perkataannya. Tentang al-Hasan, banyak orang yang mengatakan,” Itulah orang yang kata-katanya seperti perkataan para Nabi.”

Khairah ibu al-Hasan mengambil manfaat terbesar dari hafalan Ummu Salamah, pengetahuan dan kebersamaannya padanya. Sebab, Ummu Salamah termasuk Shahabiyah yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW, terlebih lagi ia adalah Istri Rasulullah SAW sendiri. Ia adalah wanita yang terbanyak meriwayatkan hadis dan terbanyak menghafalnya setelah Ummul Mukminin Aisyah. Ummu Salamah meriwayatkan hadis sebanyak 378 Hadis. Jumlah hadis sebanyak ini menempatkannya pada jajaran ahli fiqh wanita dan ilmuwan wanita terdepan. Dalam sisi ini Khairah mengambil manfaat dengan riwayat darinya, dan juga memanfaatkan ilmu-ilmunya.

Khairah mendapatkan banyak kebaikan karena kebersamaannya dengan Ummu Salamah. Ia menjadi wanita tabi’in yang dalam pemahamannya, banyak hafalan dan ketepatannya. Ibnu Hibban memasukannya dalam kategori para perawi yang tsiqah.

Ia juga sering duduk bersama para wanita untuk menasehati, mengajarkan hukum-hukum yang didapatkannya dari Aisyah dan Ummu Salamah. Tampaknya Khairah terkesan sedikit menonjolkan dirinya dan hafalannya. Ia menganggap dirinya lebih tinggi daripada anaknya dalam bidang ilmu dan pengetahuan. Cerita lucu tentang hal ini, seperti yang diutarakan oleh Ibnu Khalkan dalam kitab al-Wafayat tentang al-Hasan dan ibunya. Ia berkata,”Suatu hari ibunya, Khairah sedang bercerita di antara para wanita. Saat yang sama masuklah al-Hasan. Di tangan ibunya ada kue yang sedang dimakannya. Ia pun berkata kepada ibunya,”Wahai ibuku, buanglah kue jelek itu dari tanganmu!”

Sang ibu berkata,”Wahai anakku, sesungguhnya engkau seorang yang sudah tua dan berpengalaman membuatnya.”

Ia menjawab,”Wahai ibu, siapakah di antara kita yang lebih tua?”

Dari cerita gurauan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Khairah berumur panjang, sebab pernyataannya kepada anaknya,’sesungguhnya engkau seorang yang sudah tua dan berpengalaman’, akan tetapi kita tidak dapat memastikan kapan wafatnya. Perkiraan yang terkuat bahwa ia wafat pada akhir abad pertama Hijriyah.

Semoga Allah merahmati Khairah, Ibu al-Hasan, semoga Allah memberikan tempat terbaik untuknya dan menjadikannya bersama-sama orang-orang pilihan yang terbaik dalam keabadian rahmatNya……Amien

Sumber; 101 Kisah Tabi'in

Friday, May 28, 2010

Abu Uqail (Meninggal Dengan Jari Menunjuk Ke Langit)


Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, "Tatkala peperangan Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah.

Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang diten-tukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, 'Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!'
Ibnu Umar berkata, "Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, 'Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!'
Abu Uqail menjawab, 'Tadi ada seseorang memanggil namaku.'

Aku katakan kepadanya, 'Orang yang memanggil itu mengatakan, 'Wahai orang-orang Anshar, bukan memanggil wahai orang-orang yang terluka!'
Abu Uqail berkata, 'Aku termasuk salah satu orang Anshar, oleh karena itu aku harus menyambut seruannya sekalipun dengan merangkak.'

Kemudian Abu Uqail memakai ikat sabuknya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya seraya menyeru, 'Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana dalam perang Hunain! Bersatulah kamu sekalian semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu. Majulah ke medan perang sebab kaum muslimin itu bersembunyi sekedar memperdayakan musuh, giringlah musuhmu sehingga masuk ke dalam kebun kemudian kamu membaur dengan mereka dan pedang-pedang kalian memenggal mereka.'

Aku perhatikan bagian-bagian tubuh Abu Uqail ternyata tangannya yang terluka telah lepas dari bahunya dan jatuh di medan peperangan. Pada tubuhnya terdapat 14 luka yang menyebabkan ia meninggal dunia. Saat itu musuh Allah, Musailamah telah terbunuh.

Aku berada di sisi Abu Uqail ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir. Aku memanggil namanya, 'Wahai Abu Uqail! Dia menjawab, 'Labbaik -dengan terbata-bata- siapa yang kalah?' Aku menjawab, 'Bergembiralah, musuh Allah telah terbunuh.' Kemudian ia menunjuk ke langit dengan jarinya sambil memuji Allah lalu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya." (Masyari’ul Asywaq Ila Mashari’il ‘Isyaq, 1/509.)

Sumber: 99 Orang Shalih

Tuesday, May 25, 2010

Kedermawanan Abu Umamah R.a (3 Dinar Menjadi 300 Dinar)


Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir berkata, "Maula perempuan Abu Umamah menceritakan kepadaku, 'Abu Umamah adalah orang yang suka bersedekah dan senang mengumpulkan sesuatu untuk kemudian disedekahkan. Dia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta sesuatu kepadanya, sekali pun ia hanya bisa memberi sesiung bawang merah atau sebutir kurma atau sesuap makanan.

Pada suatu hari datang seorang peminta-minta kepadanya padahal ia sudah tidak memiliki itu semua, selain uang sebanyak 3 dinar. Orang itu tetap meminta juga, maka Abu Umamah memberikannya 1 dinar. Kemudian datang orang lain untuk meminta. Abu Umamah memberinya 1 dinar. Datang lagi satu orang, Abu Umamah memberinya 1 dinar juga.

Sudah barang tentu aku marah. Kemudian aku berkata, 'Wahai Abu Umamah, engkau tidak menyisakan untuk kami suatu pun!'

Kemudian Abu Umamah berbaring untuk tidur siang. Ketika adzan Ashar dikumandangkan aku membangunkannya. Lalu ia berangkat ke masjid. Setelah itu aku bercakap-cakap dengan dia kemudian aku meninggalkannya untuk mempersiapkan makan malam dan memasang pelana kudanya.

Ketika aku masuk kamar untuk merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba aku menemukan mata uang emas dan setelah aku hitung berjumlah 300 dinar.

Aku berkata dalam hatiku, 'Tidak mungkin dia melakukan seperti apa yang dia perbuat kecuali sangat percaya dengan apa yang akan menjadi penggantinya.'
Setelah Isya’ dia masuk rumah. Dan ketika melihat makanan yang telah tersedia dan pelana kuda telah terpasang ia tersenyum lalu berkata, 'Inilah kebaikan yang diberikan dari sisiNya.'

Aku berada di hadapannya sampai ia makan malam. Ketika itu aku berkata, 'Semoga Allah senantiasa mengasihimu, dengan infak yang engkau berikan itu sebenarnya engkau telah menyisihkan simpanan, tetapi mengapa engkau tidak memberitahu aku, sehingga aku dapat mengambilnya.'

Abu Umamah bertanya, 'Simpanan yang mana? Aku tidak menyimpan apapun!'
Kemudian aku angkat kasurnya, tatkala Abu Umamah melihat dinar itu ia bergembira dan sangat heran.

Serta merta aku potong tali ikatku, sebuah tali yang menandakan aku seorang majusi atau nasrani, dan aku masuk Islam."

Ibnu Jarir berkata, "Aku melihat wanita itu (bekas budak) menjadi guru kaum wanita di masjid Himsha yang mengajarkan al-Qur’an, as Sunnah dan Ilmu Faraidh. (Al-Hilyah, 10/129.)

Sumber: 99 Orang shalih

Thursday, May 20, 2010

Aku Tidak Peduli, Selama Mati Dalam Keadaan Islam (dan Kisah Sahabat yang Jenazahnya dilindungi Lebah)


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.

Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, 'Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.'

Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, 'Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.' Ashim bin Tsabit berkata, 'Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.' Lalu memanjatkan doa, 'Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam.'

Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, 'Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).'

Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh al-Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah bersepakat untuk membunuhnya.

Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya, perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bahkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata, 'Aku sangat kaget.' Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata, 'Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu? Aku tidak mungkin membunuhnya.'

Wanita itu berkata, 'Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rizki yang dianugrahkan Allah kepada Hubaib.'

Ketika Bani al-Harits membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, 'Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.' Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, 'Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.' Lalu Hubaib memanjatkan doa,

'Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,' lalu mengucapkan syair:

Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam
Dengan cara apa saja Allahlah tempat kembaliku
Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah
Jika Engkau berkenan,
berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid)

Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu para sahabat pada hari disiksanya Hubaib, bahwa kaum Quraisy mengutus beberapa orang untuk mencari bukti bahwa Ashim bin Tsabit telah terbunuh dalam peristiwa itu, mereka mencari potongan tubuh Ashim. Karena Ashim adalah yang membunuh salah seorang pembesar Quraisy. Tetapi Allah melindungi jenazah Ashim dengan mengirim sejenis sekawanan lebah yang melindungi jenazah Ashim, sehingga orang-orang itu tidak berhasil memotong bagian tubuh jenazah Ashim sedikit pun." (HR. Al-Bukhari, no. 3989; Abu Dawud, no. 2660.)

Sumber :
99 Kisah Orang Shalih
HR. Al-Bukhari, no. 3989; Abu Dawud, no. 2660

Wednesday, May 19, 2010

IBADAH 500 TAHUN Hanya Sebanding dengan Satu Kenikmatan

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami, lalu bersabda, 'Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia memberitahu, 'Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran.


Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebarnya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu hanya seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Kemudian mengerjakan shalat. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.

Demikianlah kami dapati, jika kami lewat dihadapannya ketika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut.

Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba itu membantah, 'Ya Rabbi, aku masuk Surga karena perbuatanku.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba tersebut membantah lagi, 'Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena amalku.'

Kemudian Allah Ta’ala memerintah para malaikat, 'Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara kenikmatan yang Aku berikan kepadanya dengan amal perbuatannya.'

Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah Ta’ala berfirman, 'Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!'

Kemudian ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu lalu berkata, 'Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Kembalikanlah ia.'

Kemudian ia dihadapkan lagi di depan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala bertanya kepadanya, 'Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?'
Hamba tersebut menjawab, 'Engkau, wahai Tuhanku.'

Allah bertanya lagi, 'Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?'
Dia menjawab, 'Semata-mata karena rahmatMu.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?'
Dia menjawab, 'Engkau Ya Rabbi.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi ombak laut, kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?'
Hamba itu menjawab, 'Engkau ya Rabbi.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu.' Kemudian Allah Ta’ala memasukkanya ke dalam Surga."

Jibril ‘Alaihis Salam melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala." (HR. Al-Hakim, 4/250.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih