Monday, May 9, 2011

Menikah dengan Mahar Dua Dirham


Para as-Salaf ash-Shalih memahami bahwa ukuran dalam kufu` yang diinginkan adalah agama. Sehingga mereka menahan wanita-wanita mereka dari orang-orang kaya yang mengikuti hawa nafsu, serta mengedepankan orang-orang miskin yang bertakwa daripada mereka, karena keyakinan mereka bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Inilah Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, seorang tokoh ulama tabi’in. Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya melamar putrinya untuk putra mahkota, al-Walid bin Abdul Malik. Putrinya, ketika itu adalah wanita yang paling cantik dan paling sempurna, serta paling tahu (alim) dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tetapi Sa’id bin al-Musayyib tidak ragu untuk meminta maaf (menolak) lamarannya, dan tetap bertahan kendati ia mendapat siksaan yang ditimpakan Abdul Malik kepadanya, hingga ia mencambuknya seratus cambukan. Hal itu karena al-Musayyib tahu sikap al-Walid yang kasar dan selalu memperturutkan hawa nafsu.
Sang alim yang mulia itu kembali ke Madinah, lalu diziarahi oleh Abdullah bin Abi Wada’ah, salah seorang muridnya. Lantas al-Musayyib bertanya tentang kondisinya hingga ia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal.

Maka ia berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mencari wanita lain?”

“Semoga Allah Ta’ala merahmati Anda, siapakah yang akan menikahkanku sedang aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?” Jawabnya.
Sa’id berkata kepadanya, “Aku (yang) akan menikahkanmu.”

Dia bertanya, “Benar, Anda akan melakukannya?”

Ia berkata, “Ya.”

Lalu dia pun menikahkannya dengan putrinya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Demikianlah, Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah lebih mengutamakan laki-laki yang fakir tapi bertakwa, yang memiliki kemampuan dalam agama di atas Amirul Mukminin yang kaya raya.

Tidak hanya sampai di situ, ketentraman dan keyakinannya pada agama laki-laki yang fakir itu sampai kepada seperti yang diceritakan tentangnya.
Abdullah bin Abi Wada’ah menuturkan, “Aku pun bangkit, sedang aku tidak tahu akan berbuat apa lantaran amat bahagia. Aku berjalan pulang ke rumahku dan mulai berpikir kepada siapa aku meminjam uang, dari siapa aku akan berhutang? Aku pun shalat Maghrib, lalu beranjak ke rumah.

Kunyalakan lampu, dan waktu itu aku sedang berpuasa. Aku menyegerakan makan malamku sebagai buka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku bertanya, ‘Siapa?’
Dia menjawab, ‘Sa’id…’

Aku mengingat-ingat setiap orang yang namanya Sa’id, maka tidak ada kecuali Sa’id bin al-Musayyib.

Yang demikian itu, karena ia tidak terlihat selama empat puluh tahun, kecuali (berada) di antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar untuk menemuinya, dan ternyata dia adalah Sa’id bin al-Musayyib. Aku mengira bahwa dia memiliki sebuah keperluan, saya berkata, ‘Wahai Abu Muhammad (yakni Sa’id al-Musayyib), sekiranya engkau mengirim utusan kepadaku (biar aku yang datang kepadamu).’

Dia berkata, ‘Tidak. Kamu lebih berhak untuk didatangi.’

Aku berkata, ‘Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan?’

Ia berkata, ‘Sesungguhnya dahulu kamu seorang bujangan, maka kamu pun menikah. Aku tidak mau membiarkanmu malam ini tidur seorang diri. Ini istrimu.’

Ternyata ia berdiri di belakangnya. Kemudian ia mengambil tangannya dan mendorongnya ke pintu lalu menutupnya. Wanita itu jatuh lantaran malu. Aku menutup ulang pintu itu, lalu melangkah ke arah mangkuk tempat roti dan minyak. Aku meletakkannya di bayangan lampu agar ia tidak melihatnya. Kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka pun datang. Mereka bertanya, ‘Ada apa denganmu?’
Aku berkata, ‘Sungguh, aku telah dinikahkan oleh Sa’id bin al-Musayyib dengan putrinya hari ini, ia membawanya malam ini tanpa sepengetahuan orang.”

Mereka berkata, ‘Sa’id menikahkanmu?!’

Saya menjawab, ‘Ya.’

Mereka bertanya, ‘Sekarang (putri)nya di rumah ini?!’

Saya menjawab, ‘Ya.’
Mereka pun mendatanginya.

Berita itu sampai kepada ibuku. Dia pun datang seraya berkata, “Wajahku haram dari wajahmu, jika kamu menyentuh istrimu sebelum aku mengarahkannya sampai tiga hari.” Aku pun menunggu selama tiga hari, kemudian baru menggaulinya. Ternyata, dia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah Ta’ala, paling alim dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan paling tahu hak suami. Aku tinggal selama sebulan, Sa’id tidak mengunjungiku dan aku pun tidak mengunjunginya. Baru setelah satu bulan, aku datang kepadanya di halaqah (majelis ta’lim)nya. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menjawab salamku, dan ia tidak berbicara kepadaku hingga orang-orang yang ada di majelis itu telah bubar.

Dia bertanya, ‘Bagaimana keadaan orang itu (maksudnya putrinya)?’

Aku menjawab, ‘Baik, wahai Abu Muhammad. Sebagaimana yang dicintai teman, dan dibenci oleh musuh.”

Dia berkata, ‘Jika ada yang meragukanmu darinya, maka jangan sampai kamu memukul.’

Aku pun pulang ke rumahku, dan dia mengirimkanku uang dua puluh ribu dirham.”

Betapa besar ketentraman sosok tabi’in mulia itu akan masa depan (nasib) putrinya, sampai-sampai ia tidak berpikir untuk menanyakan detail keadaannya, lantaran ketentramannya bahwa dia berada di sisi laki-laki bertakwa, yang takut kepada AllahTa’ala, tahu hak-haknya atas dirinya dan juga kedudukannya dari dirinya.

Sumber:
Di nukil dari 90 Kisah Malam Pertama karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta / alsofwah.or.id.
Artikel www.KisahMuslim.com

Tuesday, May 3, 2011

Kisah Amir bin Abdillah at-Tamimi Rah.a (Tabi'in)


Ahli Zuhud dari Bashrah

“Demi Allah, aku menangis bukan karena cinta dunia dan takut mati, Aku Menangis karena panjangnya perjalanan dan sedikitnya bekal. Apa yang telah aku jalani, antara naik dan turun, ke surga atau ke neraka, aku tak tahu kemana aku akan kembali......(Amir bin Abdillah at-Tamimi Rah.a)

Amir bin Abdillah laksana rahib dimalam hari dan laskar berkuda di siang hari. Bashrah dikenal sebagai daerah kaum muslimin yang paling kaya dengan hasil bumi yang melimpah ruah. Banyaknya harta rampasan perang semakin memakmurkan negeri ini. Tapi Amir bin Abdillah, pemuda dari Bani Tamimi, tak pernah mengharapkan dan membutuhkan itu semua. Ia begitu zuhud terhadap apa yang ada ditangan manusia dan hanya berharap apa yang ada disisi Allah.

Gubernur kota bashrah saat itu adalah Abu Musa al-Asy’ary. Ia adalah panglima perang tentara Islam yang juga dikenal sebagai imam, guru dan pembimbing masyarakatnya. Amir bin Abdillah senantiasa menyertai Abu Musa al-Asy’ary disaat damai maupun perang, dikota maupun diperjalanan. Itulah yang memungkinkan Amir dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia tak hanya belajar al-Qur’an persis sebagaimana ia turun kepada hati Muhammad SAW, tetapi juga meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah Muhammad SAW.

Amir bin Abdillah menjadikan kehidupannya untuk tiga hal. Sebagian untuk halaqah-halaqah zikir, dimana ia membacakan dan mengajarkannya kepada masyarakat di masjid Bashrah. Sebagian lagi untuk menyendiri untuk beribadah pada RabbNya. Sebagian lagi untuk berjihad, menghunuskan pedang dijalan Allah. Ia tak pernah meninggalkan aktivitas tersebut sedikit pun sehingga ia dikenal sebagai ahli ibadah dan ahli zuhud kota bashrah.

Seorang penduduk Bashrah menceritakan kehidupan Amir bin Abdillah:”Aku pernah mengikuti perjalanan sebuah kafilah yang didalamnya ada Amir bin Abdillah. Ketika malam datang menjelang, kami beristrahat dibawah pepohonan dekat sumber air. Saat itulah Amir bin Abdillah membereskan perbekalannya, kemudian mengikatkan kudanya pada sebuah pohon. Tali kuda itu sengaja dibuat panjang. Ia juga mengumpulkan rumput yang dapat mengenyangkan kudanya. Setelah itu ia memasuki sela-sela pepohonan dan menjauh dari kami. Melihat itu aku berkata dalam hati, ”Demi Allah, akan saya ikuti dan perhatikan apa yang ia kerjakan dalam belukar pada malam-malam seperti ini.

Ia terus menelusuri semak belukar hingga sampai pada sebuah tempat yang terselubungi oleh pepohonan dan tak terlihat oleh orang lain. Kemudian ia berdiri tegak menghadap kiblat untuk melaksanakan sholat. Baru kali ini aku melihat seseorang sholat dengan sempurna dan khusyuk seperti itu.

Kemudian rasa kantuk menyerangku. Karena kantuk sangat berat, maka aku pasrahkan kedua kelopak mataku untuk tidur. Setelah sekian lama aku terbuai dalam tidur, aku pun bangun. Sementara itu Amir masih tetap berdiri shalat dan bermunajat hingga fajar menjelang. Amir bin Abdillah bukan saja “rahib dimalam hari”, tapi juga “ laskar berkuda di siang hari”

Setiap kali seruan jihad memanggil, ia termasuk pelopor dalam menyambutnya. Apabila hendak berangkat perang bersama mujahidin yang lain, ia selalu mengenali mereka terlebih dahulu guna memilih teman berjuang. Apabila berkenan di hati, ia berkata,”Wahai saudara-saudaraku, aku ingin berjihad bersama kalian, tapi dengan syarat kalian bersedia memberikan kepadaku tiga hal.”

Mereka bertanya,”Apakah itu?”

“Pertama, agar aku menjadi pelayan kalian dan karena itu janganlah ada seorang pun yang menyanggah. Kedua, agar aku menjadi muadzin bagi kalian, untuk itu janganlah ada seorang pun yang menyaingiku dalam adzan. Ketiga, agar aku memberikan nafkah kepada kalian sebatas kemampuanku.”

Seandainya mereka menjawab setuju, ia bergabung bersama mereka. Kalau tidak, ia mencari kelompok lain.

Amir bin Abdillah termasuk mujahid yang banyak berperan saat perang berkecamuk. Dengan gagah berani, ia menembus barisan musuh. Tapi ia tidak ambisi saat pembagian ghanimah.

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash, panglima perang Qadisiyah berhasil menundukan persia, ia memerintahkan Amir untuk mengumpulkan dan menghitung ghanimah. Banyak sekali harta kekayaan, perhiasan dan barang-barang berharga yang berhasil dikumpulkan. Seperlimanya dikirim ke Baitul Maal dan sisanya dibagikan kepada para mujahidin.

Saat para pekerja menghitung harta rampasan dengan disaksikan langsung oleh kaum muslimin, tiba-tiba datang ditengah-tengah mereka seorang lelaki berambut kumal penuh dengan debu membawa sebuah gentong besar dan berat yang ia bawa sendiri. Dengan takjub mereka memperhatikan. Ternyata sebuah gentong yang tak pernah mereka lihat semisalnya. Mereka belum pernah mendapatkan harta rampasan perang yang senilai dengan itu atau sepadan dengannya.

Mereka melihat didalamnya penuh dengan batu permata dan intan berlian yang sangat berharga!Mereka pun bertanya kepada laki-laki itu,”Dari mana engkau dapatkan harta simpanan yang sangat berharga ini?”

“Aku dapatkan pada peperangan ini ditempat ini,”jawabnya singkat.
“Adakah engkau mengambil bagian?” tanya mereka.
“Hadaakumullah. Demi Allah, gentong ini dan segala yang dimiliki raja-raja persia bagiku tidak senilai dengan ujung kuku sama sekali. Sekiranya tidak ada Baitul Maal didalamnya, tentu tak akan aku angkat dan aku gendong ke tengah-tengah kalian,”jawab laki-laki itu.

“Siapakah engkau,”tanya mereka penasaran.

“Tidak, demi Allah, aku tak akan memberi tahu kalian juga orang lain, agar kalian tidak memuji dan menyanjungku. Aku hanya memuji dan menyanjung Allah serta mengharap pahala dariNya,”kata laki-laki itu seraya berlalu meninggalkan mereka.

Terdorong oleh rasa penasaran yang sangat, mereka mengutus seseorang untuk membuntuti dan mencari informasi tentang laki-laki itu. Tanpa sepengetahuannya, laki-laki itu terus diikuti hingga tibalah ditengah sahabat-sahabatnya. Ketika ia menanyakan perihal laki-laki itu mereka balik bertanya, “Tidakkah engkau mengetahuinya?Ia adalah ahli zuhud kota Bashrah, Amir bin Abdillah at-Tamimi!”

Amir bin Abdillah menghabiskan sisa hidupnya dinegeri Syam dan memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggalnya. Ketika sakitnya makin berat, para sahabatnya menjenguk dan mendapatinya sedang menangis. Mereka pun bertanya,”Apakah yang menjadikan engkau menangis?Bukankah engkau orang yang begini dan begitu (menyebutkan berbagai macam kebaikan).”

“Demi Allah, aku menangis bukan karena cinta dunia dan takut mati, Aku Menangis karena panjangnya perjalanan dan sedikitnya bekal. Apa yang telah aku jalani, antara naik dan turun, ke surga atau ke neraka, aku tak tahu kemana aku akan kembali,”Kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sementara lidahnya basah dengan zikrullah.

Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Amir dimakamkan di Baitul Maqdis

Sumber:
Ashr at-Tabi’in, Abdul Mun’im al-Hasyim, hlm 220-223
101 Kisah Tabi'in


Abu Dzar Al Ghifari R.a


Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.

Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.
Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.
Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.
Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.
Dia hanya menanti dan menanti di Ka’bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.

Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka’bah tanpa bercerita panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di Ka’bah dan segera menanyainya : “Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”. Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apaapa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.
Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.
Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah banyak berkumpul para tokohtokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.
Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orangorang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemarin.

Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.
Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.
Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Maka beliau langsung menasehatinya :
“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya.
Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam pernah berpesan kepadanya :
“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. (HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.)
Asma’ bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, dia beristirahat di masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab : Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bertanya lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab : Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah. Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457.
Disamping berbagai wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :
“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer radhiyallahu ‘anhuma.)
Setelah wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, Abu Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam disamping kebenciannya kepada segala bentuk kebid’ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam). Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin. Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi sebagaimana yang beliau ceritakan : (artinya) “Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rsaulullah) dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku. Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159. )
Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (yakni duduk bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : Beri kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.
Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu Dzar.

Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.
Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) sallallahu alaihi wa aalihi wasallam pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.
Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan beliau : Aku melihatnya.
Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga dinar (untuk keperluanku).
Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.
Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian harta mereka.
Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”.
Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 – 1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35.
Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram. Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang mulai makmur hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut :
“Ketika Abu Musa Al Asy’ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek. Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !!
Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.
Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”.
Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.
Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan ?
Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.

Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?
Abu Hurairah menjawab : Tidak.
Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”. Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.
Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kepadanya :
“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati”. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162.)
Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di hari kiamat kelak.
Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu. Maka Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu’minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta’ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu’minin Utsman bin Affan. Abu Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu’minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu’minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau : “Wahai Amirul Mu’minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”.
Maka Amirul Mu’mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau : “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.
Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam.
Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu’minin dan di sana ada Ka’ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan Abdurrahman bi A’uf. Maka Amirul Mu’minin bertanya kepada Ka’ab : Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang mengumpulkannya. Maka Ka’ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa

Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka’ab dengan tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada Ka’ab : Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman : (artinya)”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya”. S. Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu’minin itu memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. S. Ad Daher (dinamakan juga S. Al Insan) ayat ke 8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur’an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya.
Melihat kejadian itu, Amirul Mu’minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. Juga Amirul Mu’minin meminta kepada Ka’ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka’abpun akhirnya memaafkannya.
Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya. Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau menangis ?”.
Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.
Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin”.
Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.
Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.
Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan itupun menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu’minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.
Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”.
Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubbahmu itu”.
Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.
Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah sepeninggalnya. Amirul Mu’minin Utsman bin Affan amat pilu mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan : “Semoga Allah merahmati Abu Dzar”. Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman bin Affan dalam keluarganya.
Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya, sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan bimbingan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.
Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan tentang ilmu Al Qur’an dan Al Hadits. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada keridho’anNya.

Sumber:
1. Al Qur’an Al Karim. 2. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani. 3. Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Al Imam Abu Zakaria An Nawawi. 4. At Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa’ad. 5. Hilyatul Awliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Al Hafidl Abu Nu’aim Al Asfahani. 6 . Siyar A’lamin Nubala’, Al Imam Adz Dzahabi. 7. Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani. 8. Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At tirmidzi.


Kisah Nabiyullah Luth ‘Alayhi Salam


Nabiyullah Luth adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang menghadapi suatu kaum yang berhati dan bertabiat keras. Mereka memiliki penyimpangan akidah sekaligus penyimpangan perilaku. Penyimpangan mereka termasuk suatu keanehan dalam sejarah manusia. Mereka adalah orang-orang yang menyukai sesama jenis. Mereka melakukan kemunkaran di dalam perkumpulan mereka. Maka Luth berjihad besar untuk melawan mereka sehingga Allah menurunkan adzab kepada mereka.

Hadis ini menyinggung sepenggal berita tentang Luth. Ia hadir untuk menjelaskan sebagian yang tertera di dalam Al-Qur'an dan menambah berita baru yang tidak terdapat di dalamnya. Ia membela Nabiyullah Luth dari klaim para pendusta yang menisbatkan sesuatu kepadanya di mana Luth sepanjang umurnya berjuang untuk memeranginya dan membongkarnya.

NASH HADIS

Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak Subhanahu wa Ta’ala dari Ibnu Abbas berkata,"Ketika utusan-utusan Allah datang kepada Luth, Luth mengira mereka adalah para tamu yang menemuinya. Maka Luth meminta mereka untuk mendekat dan mereka duduk di dekatnya. Luth menghadirkan tiga orang putrinya. Luth menyuruh putri-putrinya agar duduk di antara para tamu dan kaumnya. Maka kaumnya datang dengan tergopoh-gopoh. Ketika Luth melihat mereka, dia berkata, 'Inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan namaku terhadap tamuku ini." (QS. Hud: 78). Kaumnya menjawab, "Bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu dan sesungguhnya kamu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." (QS. Hud: 79). Luth berkata, "Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menolakmu atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat, tentulah aku lakukan." (QS. Hud: 80)

Lalu Jibril menengok kepadanya dan berkata, "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan mampu mengganggumu." (QS. Hud: 81). Ibnu Abbas berkata, "Lalu Jibril menghapus penglihatan mereka, maka mereka pulang dengan lari tunggang langgang sampai mereka keluar kepada orang-orang yang berada di pintu. Mereka berkata, 'Kami datang kepada kalian dari sisi orang yang paling mahir sihirnya. Dia telah menghapus penglihatan kami.’ Maka mereka lari tunggang langgang sampai mereka masuk di sebuah desa. Pada malam hari desa itu diangkat sampai ia berada di antara langit dan bumi, sehingga mereka mendengar suara-suara burung di udara. Kemudian desa itu dijungkirbalikkan, lalu keluarlah angin kencang kepada mereka. Barangsiapa terkena angin itu, pastilah ia mati. Dan barangsiapa yang kabur dari desa tersebut, maka ia akan dikejar oleh angin tersebut yang berubah menjadi batu yang akan membunuhnya."

Ibnu Abbas melanjutkan, "Lalu Luth pergi dengan ketiga putrinya. Ketika dia sampai di tempat begini-begini di kota Syam, putrinya yang besar meninggal, maka keluarlah darinya mata air yang bernama Wariyah. Luth terus berjalan hingga tiba di tempat yang dikehendaki oleh Allah, dan putrinya yang termuda mati, maka memancarlah dari sisinya mata air yang diberi nama Ra'ziyah. Putri Luth yang masih hidup adalah yang tengah."

TAKHRIJ HADIS

Diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak Alas Shahihain, 2/375, dalam Kitab Tafsir (tafsir surat Hud). Hakim berkata, "Ini adalah hadis shahih di atas syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya." Tashih-nya disetujui oleh Dzahabi.

Hakim berkata, "Mungkin saja ada yang menyangka bahwa hadis ini dan yang sejenisnya tergolong mauquf, padahal sebenarnya bukan. Karena jika seorang sahabat menafsirkan tilawah, maka ia adalah musnad (bersanad) menurut Syaikhain."

PENJELASAN HADIS

Hadis ini memaparkan berita Luth yang dibawa oleh Al-Qur'an. Hadis ini menyebutkan bahwa para Malaikat datang kepada Luth dalam wujud para pemuda yang tampan. Luth menerima mereka sebagai tamu dan mengkhawatirkan mereka dari ulah kaumnya. Karena, dia mengira mereka adalah para tamu yang singgah di desanya dan mereka tidak mengenal perilaku penduduknya yang rusak dan menyimpang.

Ketika para tamu itu memasuki rumah Luth, maka kaumnya mengetahui kehadiran mereka. Lalu mereka datang berbondong-bondong hendak mengganggu tamu-tamu Luth dan melakukan perbuatan keji kepada mereka. Maka Luth mendudukkan putri-putrinya di antara para tamu dan kaumnya. Luth menawarkan kepada mereka agar menikahi putri-putrinya, tetapi mereka menolak. Mereka tetap bersikeras melakukan perbuatan munkar seperti yang mereka niatkan. Luth kesal bukan main dan dia berharap memiliki kekuatan yang bisa membantunya dan melindunginya dari ancaman kaumnya serta untuk menolak kejahatan mereka.

Pada saat itu Jibril memberitahu Luth tentang siapa sebenarnya mereka. Mereka adalah para utusan Allah. Orang-orang lemah lagi bodoh itu tidak mungkin bisa mengganggu atau menjamah mereka. Jibril memukul mereka dengan sayapnya, sehingga mata mereka tidak bisa melihat. Mereka kabur dalam keadaan takut dan
lemas seperti tikus dikejar kucing.

Pada akhir malam mereka diangkat ke langit. Bumi mereka, kota mereka, hewan mereka, dan tanaman mereka sampai Malaikat pun mendengar suara burung mereka di udara. Kota mereka dibalik, yang atas menjadi dibawah, dan diikuti oleh hujan batu panas. Tak seorang pun bisa selamat.

Semua itu terdapat di dalam Al-Qur'an. Dan yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah bahwa keluarga Luth yang selamat dari adzab Allah adalah ketiga putrinya. Luth membawa keluarganya ke bumi Syam. Putri sulungnya wafat di tengah perjalanannya ke Syam, maka Allah mengeluarkan di sisinya mata air yang bernama Wariyah. Kemudian Luth terus berjalan menjauh kota tempat orang-orang yang disiksa, maka putri bungsunya wafat dan di tempat dia wafat memancarlah air yang bernama Ra'ziyah, dan yang tersisa dari putri-putri Luth adalah putri yang tengah.

VERSI TAURAT

Siapa yang membaca Taurat, maka dia mendapati banyak peristiwa tentang Luth dengan alur cerita yang jelas.Dia akan mendapati bahwa Al-Qur'an membenarkan banyak kejadian dan peristiwanya. Hanya saja,didalamnyaterdapatpenyimpangan- penyimpangan, dan sebagian di antaranya tampak sepele, sedangkan yang lainnya termasuk penyimpangan yang besar dan berbahaya.

Di antara penyelewengan ini adalah klaim mereka bahwa Malaikat yang mampir di rumah Ibrahim dan mereka memakan suguhan makanan yang dihidangkan Ibrahim kepada mereka. Ibrahim menghidangkan – sebagaimana dikatakan oleh Taurat – daging anak sapi bakar dengan susu yang berbusa. Para Malaikat makan hidangan Ibrahim tersebut. (Safar Takwin, Ishah 18 poin 8) "Ketika para Malaikat datang kepada Luth, mereka juga makan roti dan madu yang dihidangkan." (Safar Takwin, Ishah 19 poin 3)

Firman Allah membantah dan membatalkan klaim ini. Firman-Nya, "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (Malaikat-Malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun'
(selamatlah). Maka tidak lama kemudian, Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (Malaikat-Malaikat) yang diutus kepada kaum Luth'."(QS. Hud: 69-70)

Para Malaikat tidak menjulurkan tangan mereka ke makanan, sehingga Ibrahim merasa aneh dengan sikap mereka, maka terbersit rasa takut dari diri mereka. Orang-orang yang tidak makan makanan tamu biasanya adalah para musuh yang datang menginginkan keburukan. Oleh sebab itu, mereka menjelaskan tentang jati diri mereka kepada Ibrahim. Jelaslah alasan mereka, karena tabiat para Malaikat adalah tidak makan dan tidak minum.

Di antara penyimpangan Taurat yang dikoreksi oleh Al-Qur'an adalah bahwa jumlah Malaikat lebih dari dua, tidak seperti yang dinyatakan oleh Taurat bahwa Malaikat hanya dua saja. Di antara poin yang diakui kebenaran oleh hadis adalah bahwa Luth meletakkan putri-putrinya di antara para tamunya dan kaumnya ketika mereka masuk ke rumahnya.

Taurat menyebutkan bahwa Luth keluar kepada kaumnya di luar rumah dan menutup pintu di belakangnya. Penyimpangan Taurat yang paling berbahaya adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabiyullah Luth secara dusta dan palsu. Mereka mengklaim bahwa Luth yang menghabiskan seluruh umurnya untuk memerangi perbuatan keji telah berzina dengan kedua putrinya.

Mereka mengklaim bahwa kedua putri Luth bersekongkol setelah dia keluar dari desa yang diadzab dan tinggal di sebuah gua di gunung dekat kota Shauar. Kedua putrinya itu khawatir jika keturunan bapaknya akan terputus, maka keduanya menyuguhkan khamr kepadanya selama dua malam berturut-turut sampai dia teler. Selanjutnya, putrinya yang tertua tidur bersamanya di malam pertama dan diteruskan dengan adiknya di malam berikutnya, hingga keduanya hamil darinya. Dari keturunan putri pertamanya adalah Muabiyin dan dari keturunan kedua adalah Amuniyin.

Demi Allah, mereka telah berdusta. Rasul-Rasul Allah terjaga dari perbuatan keji. Tidak mungkin Allah membiarkan Nabi-Nya terjerumus ke dalam perbuatan keji seperti ini. Justru dialah orang suci yang memerangi kemunkaran ini. Tidak mungkin putri-putri Luth yang shalihah yang telah diselamatkan oleh Allah dari kota orang-orang yang diadzab karena kesuciannya, melakukan perbuatan keji seperti ini dengan bapaknya. Mustahil dan tidak mungkin. Akan tetapi, jiwa-jiwa kotor selalu ingin mengotori orang-orang baik lagi suci.

Barangsiapa yang mengetahui sifat-sifat para Nabi dan keadaan mereka, maka dia akan meyakini bahwa semua ini hanyalah fitnah dusta. Barangsiapa membaca kisah Luth di dalam Al-Qur'an dengan kisah yang terperinci, maka keyakinannya pasti bertambah bahwa para penyeleweng dalam Taurat telah berdusta.

Hadis ini datang dengan memaparkan perkara yang sebenarnya. Luth tidak memiliki dua orang putri sebagaimana yang diklaim oleh Taurat yang telah diselewengkan. Akan tetapi dia mempunyai tiga putri. Luth tidak tinggal di gua, tetapi dia pindah ke bumi Syam. Di tengah perjalanannya dua putrinya wafat dan yang tersisa hanya satu.

Perincian yang terkait dengan putri-putri Luth dalam Taurat adalah batil lagi palsu. Pembaca hadis mendapati seolah-olah hadis ini dipaparkan untuk membantah tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepada Luth. Oleh karena itu, hadis ini datang untuk membuka hakikat yang dengannya Nabiyullah Luth terbebas dari tuduhan dusta orang-orang dzalim.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebutkan di dalam hadis tentang sebagian berita yang berkaitan dengan Luth yang tidak disinggung oleh Al-Qur'an.
  2. Koreksi hadis terhadap penyelewengan Taurat sebagaimana Al-Qur'an juga mengoreksinya.
  3. Nabi Luth tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh para penyeleweng Taurat.
  4. Dustanya klaim para penyeleweng Taurat bahwa Muabiyin dan Amuniyin adalah anak-anak zina.
  5. Keterangan tentang besarnya dosa homoseksual. Keterangan tentang besarnya hukuman yang menimpa para pelaku dosa ini dan bahwa hukuman ini tidak jauh dari orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.

Sumber: KISAH-KISAH SHAHIH DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, Karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor


Friday, January 14, 2011

Kisah Muhammad bin Muslim az-Zuhri Rah.a (Tabi'in)

Ahli Multi Ilmu

“Aku tidak menduga bahwa ada orang yang menguasai ilmu seperti Ibnu Syihab.” (Rabiah ar-Ra’yi Rah.a)

Diantara keagungan dan wujud Maha kuasa Allah adalah menjadikan Imam ini keturunan dari orang-orang yang paling banyak memusuhi Nabi SAW. Namun, Allah-lah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Allah Maha kuasa menciptakan laki-laki ini: Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri al-Quraisy. Ia lahir dikota Syam. Dalam lembaran sejarah, ia dikenal dengan nama Imam az-Zuhri.

Ia dikaruniai usia panjang. Muhammad az-Zuhri sempat bertemu dengan sebagian shahabat Nabi SAW, bertemu dengan 10 shahabat dan mengambil ilmu dari mereka. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Sahl bin Sa’ad, Saib bin Yazid dan beberapa sahabat lainnya.

Muhammad az-Zuhri sangat mencintai ilmu. Ia bersedia melakukan perjalanan panjang untuk menuntut ilmu. Begitu cintanya pada ilmu sehingga dengan bangga ia berkata:
“Tidaklah kesabaran seseorang terhadap ilmu seperti kesabaranku. Tidak juga mereka menyebarkannya seperti diriku.”

Jika ia masuk ke rumah, ia langsung bergelut dengan buku sehingga melupakan hal-hal lain. Ketika istrinya masuk. Muhammad az-Zuhri selalu bersama bukunya. Sang istri sampai cemburu. Tapi, wajarkah seseorang cemburu terhadap buku. Cemburu pada buku yang telah menyita waktu suaminya? Sang istri pernah berdiri disampingnya seraya berkata:
“Demi Allah, kecemburuanku pada buku-buku ini lebih besar daripada tiga wanita?”

Beginilah Muhammad az-Zuhri menghabiskan waktunya. Untuk itu, ia selalu mendampingi para ulama. Ia pernah berkata,”Hewan tungganganku berjalan mengiringi Said bin Musayyib selama delapan tahun.”

Lihat juga keseriusan Muhammad az-Zuhri terhadap ilmu ketika dia menyertai Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, salah seorang ahli fiqih Madinah. Muhammad az-Zuhri melayaninya layaknya seorang pembantu melayani tuannya. Ketika pembantu sebenarnya Ubaidillah pergi, Muhammad az-Zuhri datang mengetuk pintu.

“Siapa didepan pintu,” tanya Ubaidillah.
Budak Ubaidillah menjawab,” Pelayanmu!”

Ubaidillah mengira pembantunya. Padahal, dia adalah Muhammad az-Zuhri.

Karena itu, tak heran kalau Muhammad az-Zuhri banyak mengumpulkan beragama ilmu. Pantaslah Laits bin Sa’ad memberikan pujian, “Aku tidak mengetahui ada orang alim yang mengumpulkan banyak ilmu daripada Ibnu Syihab.”

Suatu ketika, Muhammad az-Zuhri pergi ke Madinah. Disana ia bertemu dengan Rabiah ar-Ra’yi. Keduanya pun masuk ke kantor hingga waktu ashar. Muhammad az-Zuhri berkata,”Aku tidak menyangka bahwa di Madinah ada orang sepertimu.”

Rabiah ar-Ra’yi keluar seraya berkata,”Aku tidak menduga bahwa ada orang yang menguasai ilmu seperti Ibnu Syihab.”Maksudnya, Muhammad az-Zuhri.

Ia juga mendapat pujian dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz,”Bagi kalian Ibnu Syihab, Sungguh kalian tak akan menemukan seseorang yang lebih mengetahui Sunnah terdahulu darinya.”

Imam az-Zuhri juga dikaruniai Allah dengan kekuatan menghafal dan mengingat. Ia sangat bersyukur dengan karunia ini. “Tidak ada sesuatu pun yang diterima hatiku yang kulupakan.” Ia juga berkata,”Aku tidak pernah ragu terhadap hafalan hadisku kecuali satu hadis. Aku pun menanyakan pada salah seorang sahabatku. Ternyata persis seperti yang kuhafal.”

Muhammad az-Zuhri tak hanya mengantungi banyak ilmu, tapi juga mengamalkannya. Suatu ketika Muhammad bin al-Munkadir melihatnya lalu berkata,” Aku melihat diantara dua mata az-Zuhri ada tanda bekas sujud.” Ini menunjukan banyaknya ibadah sang imam.

Perhatikan juga kedalaman ilmu fiqihnya. Dia berbuka pada puasa Ramadhan ketika musafir. Namun saat hari Asyura’ ketika safar, dia justru berpuasa. Saat ditanya mengapa dia berbuka dan kadang berpuasa ketika musafir, ia menjawab,”Sesungguhnya puasa hari-hari ramadhan bisa diganti dengan hari lain. Sedangkan hari Asyura’ tidak.”

Betapa indah ibadah ahli ilmu. Betapa indah ibadah para ulama. Betapa banyak orang alim ketika membaca Al-Qur’an mendapatkan kenikmatan yang tak didapat prang selain mereka. Dengan membaca Al-Qur’an, mereka mengetahui perintahNya dan memahami yang halal dan haram.

Ketika salah seorang saudaranya ditanya, apakah az-Zuhri menggunakan minyak wangi, saudaranya menjawab,”Aku mencium minyak wangi dari langkah hewan kendaraan az-Zuhri.”

Bukanlah termasuk zuhud seseorang yang menolak perhiasan dunia. Zuhud adalah memakan yang halal tanpa berlebihan. Siapa yang makan yang baik dan melaksanakan HakNya dan mengambil dari dunia sekadar yang ia butuhkan, itulah zuhud sebenarnya.

Muhammad az-Zuhri biasa bergaul dengan para penguasa. Karenanya, para khalifah Bani Umayyah banyak yang memuliakannya. Suatu saat ia berada disuatu kaum yang mengeluh,”Kami mempunyai 18 wanita yang sudah lanjut usia. Mereka tak mempunyai pelayan.”

Imam az-Zuhri segera memberikan 10000 dirham, dan menyiapkan 1000 dirham untuk pelayan mereka.

Raja’ bin Haywah pernah menasehatinya tentang kedekatannya dengan para penguasa Bani Umayyah,”Tidaklah engkau aman dari tangan-tangan mereka (maksudnya para penguasa Bani Umayyah).”

Imam az-Zuhri berjanji untuk mengurangi kedekatannya. Ketika suatu saat, Raja’ menemuinya, az-Zuhri sudah meletakan makanan dan meninggalkan manisan mereka. Raja’ berkata,”Wahai Abu Bakar, ini yang kami bedakan.” Lalu az-Zuhri berkata,”Sesungguhnya, kedermawanan itu tidak bisa dengan coba-coba.”

Ahmad bin Hanbal berkata,”az-Zuhri orang yang terbaik dalam hal hadis dan terbaik dalam hal isnad.”

Walaupun dekat dengan penguasa, hal itu tidak membuat imam az-Zuhri mengekor. Ia tetap tegas menolak hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Suatu ketika, Sulaiman bin Yasar menemui Hisyan bin Abdul Malik.”Wahai Sulaiman!Siapa yang memanggul dosa besar dari golongan mereka?(maksudnya dari lawan Aisyah?)” tanya Hisyam. “Abdullah bin ubay bin Salul,”jawab Sulaiman.

“Engkau berbohong!Tapi Ali bin Abi Thalib.”
“Amirul Mukminin lebih mengetahui apa yang ia katakan,”jawab Sulaiman.

Ketika Imam az-Zuhri menemui Hisyam, ia ditanya dengan pertanyaan serupa.”Abdullah bin Ubay bin Salul,” jawab az-Zuhri.

“Engkau bohong!Tapi Ali bin Abi Thalib,”ujar Hisyam.

“Tidak. Seandainya ada seruan dari langit yang mengatakan bahwa Allah menghalalkan berbohong, aku tetap tidak mau berbohong. Dari Urqah bin Zubair, Said bin Musayyab, dan Ubaidillah bin Abdullah dari Aisyah bahwa orang yang memanggul dosa dari lawannnya adalah Abdullah bin Ubay bi Salul.”

Demikianlah. Imam az-Zuhri tetap pada pendiriannya. Ia wafat dalam usia 72 tahun. Ia meninggal pada malam selasa, 17 Ramadhan tahun 124 Hijriyah.

Sumber : 101 Kisah Tabi'in