Thursday, December 16, 2010

Kisah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf Rah.a (Tabi'in)

Hakim Adil dari Madinah

”Engkau telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaummu yang sepengetahuanku tidak ada tidak ada yang lebih tahu tentang hadis daripada keduanya: Urwah dan Abu Salamah.”…-Ibrahim bin Qarizh-


Abu Salamah adalah putera Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah yang kaya. Nasabnya secara lengkap adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf bin Abdi Auf bin Abdi bin Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab al-Quraisy az-Zuhri al-Hafizh. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’nya menempatkannya pada tingkatan kedua dalam jajaran era Tabi’in. Dia merupakan ulama madinah. Ada yang mengatakan nama aslinya adalah Abdullah atau Ismail. Dia dilahirkan pada sekitar tahun 20-an Hijriyah. Ia hanya meriwayatkan sedikit hadis dari ayahnya. Karena sang ayah terlebih dahulu meninggal dunia. Saat itu, Abu Salamah masih kecil.


Namun demikian, ia sempat meriwayatkan hadis dari beberapa sahabat Rasulullah SAW, antara lain dari Usamah bin Zaid, Abdullah bin Salam, Abu Ayyub, Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim, Abu Hurairah, dan beberapa sahabat yang lain.

Menurut Umar bin Abdul Aziz, Abu Salamah adalah penuntut ilmu yang faqih dan mujtahid yang memiliki kemampuan berhujjah. Beberapa ulama meriwayatkan dari Abu Salamah anatar lain anaknya Umar bin Abu Salamah, keponakannya Sa’ad bin Ibrahim, Abdul Majid bin Suhail, Arak bin Malik, asy-Sya’bi, Sa’id al-Maqbari, Amr bin Dinar, az-Zuhri, Salamah bin Khalil, dan lainnya.

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya menyebutkan, Abu Salamah termasuk orang yang Tsiqah dan Faqih. Abu Zur’ah menyebutnya sebagai seorang imam yang tsiqah. Imam Malik berkata,” Diantara kami ada yang dikenal sebagai ahli ilmu. Nama atau kunyah salah seorang diantaranya adalah Abu Salamah.

Muhammad bin Abdullah bin Abi Ya’kub adh-Dhibby berkata,”Abu Salamah pernah datang ke Bashrah dikediaman Bisyr bin Marwan. Abu Salamah merupakan seorang laki-laki yang ceria. Wajahnya seperti mata uang dinar.

Az-Zuhri berkata,”Ada empat orang Quraisy yang kutemui seperti laut (kiasan banyaknya ilmu mereka). Yaitu Urwah, Ibnu al-Musayyab, Abu Salamah dan Ubaidillah bin Abdullah. Namun Abu Salamah sering berbeda pendapat dengan Ibnu Abbas. Dengan demikian, ia terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak dari Ibnu Abbas.

Ibnu Syihab az-Zuhri berkata,”aku datang ke mesir untuk bertemu Abdul Aziz, gubernur daerah itu. Aku berbicara tentang Said bin al-Musayyab. Ibrahim bin Qarizh berkata,”aku tidak mendengar berbicara kecuali tentang Said bin al-Musayyib? Ibnu Syihab menjawab,”Ya.” Ibrahim mengatakan,”Engkau telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaummu yang sepengetahuanku tidak ada tidak ada yang lebih tahu tentang hadis daripada keduanya: Urwah dan Abu Salamah.” . Az-Zuhri kembali mengatakan,” Ketika aku kembali ke madinah akau mendapatkan Urwah laksana laut yang tak dikotori oleh sesuatu.’”

Semasa hidupnya Abu Salamah biasa mengunjungi berbagai kota. Selain Mesir dan Bashrah, ia juga pernah ke kuffah. Dipaparkan asy-Sya’bi, “Ketika ke kuffah, ia berjalan diantaraku dan seorang pria. Lalu ia ditanya tentang orang yang paling berilmu. Ia diam sejenak, lalu menjawab,”seorang pria diantara kalian berdua.”

Diantara Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah adalah hadis dari Abu Hurairah yang berbunyi:
“Janganlah memperkuat (tekad) untuk melakukan perjalanan kecuali pada tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjidil Aqsha (di Yerusalem).”

Hadis lain yang bersumber dari Abu Salamah dari jalur Qatadah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Melihat itu dari Allah dan bermimpi itu dari Syetan. Ketika salah satu dari kalian bermimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali dan berta’awudz (berlindunglah) pada Allah dari keburukannya. Maka hal itu tak akan membahayakannya.”

Sejarawan Khalifah bin Khayyath mengatakan,”Marwan bin Hakam meninggalkan Madinah pada 48 Hijriyah. Lalu madinah dipimpin oleh Sa’id bin Ash. Dan Abu Salamah bin Abdurrahman diminta sebagai hakim.”

Abu Salamah tetap menjabat sebgai Qadhi Madinah hingga Sa’id tidak lagi menjabat gubernur kota itu pada tahun 54 Hijriyah.

Abu Sa’ad berkata,”Abu Salamah meninggal dunia di Madinah pada tahun 94 Hijriyah pada masa pemerintahan al-Walid dalam usia 72 tahun. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia wafat pada tahun 104 Hijriyah

Sumber :
Buku 101 Kisah Tabi’in
Siyar A’lam Nubala
Masyahir Ulama’ al-Amshar

No comments:

Post a Comment