Saturday, April 24, 2010

Kisah Hamzah bin Abdul Muththalib R.a (Sahabat)

Beliau adalah seorang tokoh, pahlawan, singa Allah, Abu Umarah, Abu Ya’la Al-Qurasyi, Al-Hasyimi, Al Makki, kemudian Al Madani, Al Badri, dan Asy Syahid.

Beliau adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saudara sesusuan Nabi.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah terlindungi dan Hamzah akan melindunginya. Oleh karena itu, mereka menghentikan penyiksaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiallahu ‘anhu

Hamzah bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu masuk Islam di akhir tahun keenam dari nubuwah (kenabian). Menurut pendapat mayoritas ulama, beliau masuk Islam pada bulan Dzul Hijjah.

Diantara sebab keislaman beliau adalah karena suatu hari Abu Jahal melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala di Shafa, lalu dia mencaci maki dan melecehkan beliau, namun beliau hanya diam saja. Kemudian dia memukul kepala beliau dengan menggunakan batu hingga luka dan darah pun mengalir dari luka itu. Kemudian dia berbalik menuju kumpulan orang-orang Quraisy di dekat Ka’bah dan mengobrol bersama mereka.

Seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jad’an yang berada di sana melihat apa yang dilakukan Abu Jahal terhadap beliau. sementara Hamzah yang baru pulang dari berburu sambil menenteng busurnya, lewat di sana. Maka budak perempuan itu mengabarkan apa yang telah dilakukan Abu Jahal seperti yang dilihatnya.

Sebagai pemuda Quraisy yang paling terpandang dan menyadari harga dirinya, Hamzah langsung meradang. Dia beranjak pergi dan tidak berhenti menemui seorang pun, dengan satu tujuan mencari Abu Jahal. Jika sudah ketemu, dia akan menghajarnya. Tatkala sudah masuk masjid, dia berdiri di dekat kepala Abu Jahal lalu berkata, “Wahai orang yang berpantat kuning, apakah engkau berani mencela anak saudaraku, padahal aku berada di atas agamanya ?!” seketika itu dia memukul kepala Abu Jahal dengan tangkai busur hingga menimbulkan luka yang menganga. Orang-orang dari Bani Makhzum (kampung Abu Jahal) bangkit berdiri, begitu pula yang dilakukan orang-orang dari Bani Hasyim (kampung Hamzah).
Abu Jahal pun berkata, “Biarkan saja Abu Ammarah (Hamzah), karena memang aku telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang menyakitkan.

Riwayat-Riwayat Tentang Beliau

Abu Ishaq berkata: Diriwayatkan dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali, ia mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Panggilah Hamzah !” aku menjawab, “Siapa itu penunggang unta merah?” Hamzah berkata, “Dia adalah Utbah bin Rabi’ah.” Pada saat itu Hamzah berduel dengan Utbah lalu ia berhasil membunuhnya.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar wanita-wanita Anshar menangisi suami mereka yang meninggal, maka beliau bersabda, ‘Tetapi kenapa tidak ada yang menangisi Hamzah? Tiba-tiba wanita-wanita itu datang dan menangisi Hamzah hingga beliau bersabda, ‘Suruhlah agar mereka tidak menangisi lagi orang yang mati setelah ini.”

Diriwayatkan dari Jabir secara marfu’, dia berkata, “Hamzah adalah pemimpin para syuhada’, sosok yang berani menghadapi pemimpin yang zhalim, yakni dengan memerintah pemimpin itu, melarangnya hingga ia dibunuh.”

Kisah Terbunuhnya Hamzah dan Taubatnya Sang Pembunuh

Diriwayatkan dari Ja’far bin Amru bin Umayyah Adh-Dhamri, dia berkata, “Aku dan Ubaidullah bin Adi bin Al Khiyar pernah keluar untuk berperang pada zaman Mu’awiyah. Lalu kami melewati Himsh. Tiba-tiba ada Wahsyi di situ. Ibnu Adi lalu berkata, ‘Akankah kita bertanya kepada Wahsyi tentang cara dia membunuh Hamzah?’ setelah itu kami keluar menemuinya dan bertanya tentang hal itu. Dia kemudian berkata kepada kami, ‘Kalian berdua akan mendapatkan jawabannya di depan halamannya di atas tikarnya. Dulu dia seorang pemabuk walaupun sekarang kalian mendapatinya dalam keadaan sehat. Kalian juga akan bertemu dengan seorang pria Arab’.

Kami kemudian mendatanginya, dan ternyata dia orang tua berkulit hitam seperti burung gagak, berada di atas tikarnya. Dia berteriak. Lalu kami mengucapkan salam kepadanya. Dia mengangkat kepalanya kepada Ubaidullah bin Adi seraya berkata, ‘Demi Allah kamu adalah anak Adi, apakah kamu anak Al Khiyar?’ dia menjawab, ‘Ya’. Setelah itu dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihatmu sejak aku mencela ibumu, As-Sa’diyah, yang menyusuimu di Dzi Thuwa. Ketika itu dia berada di atas untanya, lalu tampaklah kedua kakimu’. Kami berkata, ‘Kami sebenarnya datang menemuimu agar engkau menceritakan kepada kami cara membunuh Hamzah’. Dia berkata, ‘Aku akan bercerita kepada kalian tentang apa yang pernah aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu aku menjadi budak Jubair bin Muth’im. Pamannya yang bernama Thu’aimah bin Adi terbunuh pada perang Badar. Lalu dia berkata kepadaku, “Jika kamu bisa membunuh Hamzah maka kamu merdeka”.

Aku mempunyai sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk melempar dan jarang sekali tidak mengenai sasaran. Lantas aku keluar bersama anggota pasukan lainnya. Ketika mereka sudah bertemu di medan perang, aku mengambil tombak dan keluar untuk mencari Hamzah hingga akhirnya aku menemukannya sedang berada di tengah kerumunan pasukan layaknya unta Auraq (yaitu unta yang berwarna antara debu dan hitam) menghantam musuh dengan pedangnya yang tajam hingga merenggut nyawa. Demi Allah, saat itu aku telah bersiap-siap membidiknya. Tiba-tiba Siba’ bin Abdul Uza Al Khuza’I mendahuluiku. Ketika dia dilihat oleh Hamzah, dia berkata, ‘Datanglah kepadaku wahai anak pemotong kemaluan wanita’. Kemudian dia dibunuh oleh Hamzah. Demi Allah, dia tidak meleset sedikit pun. Aku sama sekali belum pernah melihat sesuatu yang lebih cepat jatuhnya dari pada kepala Siba’.

Aku kemudian berusaha membidikkan tombakku, hingga ketika aku anggap sudah tepat, maka aku melepaskannya hingga akhirnya mengenai bagian bawah perutnya dan tembus sampai kedua kakinya. Hamzah pun jatuh dan menggelepar. Aku lantas membiarkan tombah itu tetap menancap, hingga ketika dia telah meninggal, aku mendekatinya dan aku mengambil kembali tombakku. Setelah itu aku kembali ke kamp,lalu duduk didalamnya, dan saat itu aku tidak lagi mempunyai kepentingan lain.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah, aku lari ke Tha’if. Ketika utusan Tha’if keluar untuk masuk Islam, seakan-akan bumi menjadi sempit bagiku. Aku berkata, ‘Larilah ke Syam atau Yaman atau negeri yang lain’. Demi Allah, pada saat itu aku kebingungan. Tiba-tiba seorang pria berkata, ‘Demi Allah, Muhammad tidak memerangi orang yang masuk ke dalam agamanya. Aku pun pergi hingga ke Madinah untuk menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lantas bersabda, “Kamu Wahsyi?” aku menjawab, “Benar”. Beliau bersabda, “Duduklah! Ceritakan kepadaku cara engkau membunuh Hamzah?”. Aku lalu menceritakan peristiwa tersebut, seperti yang aku ceritakan kepada kalian berdua. Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan perlihatkan wajahmu dihadapanku, aku tidak ingin melihat wajahmu”. Sejak itu aku menjauhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebisa mungkin hingga beliau meninggal dunia.

Ketika orang-orang Islam keluar memerangi Musailamah, aku ikut berperang bersama mereka dengan membawa tombak yang pernah digunakan untuk membunuh Hamzah. Ketika kedua kubu sudah bertemu, aku melihat Musailamah yang sedang menenteng pedang ditangan. Demi Allah aku tidak mengenalnya. Tiba-tiba ada seorang sahabat Anshor mendatanginya dari arah lain. Masing-masing kami bersiap-siap untuk menyerangnya, hingga ketika sudah merasa tepat membidiknya, aku langsung melemparkan tombak tersebut hingga mengenainya. Pria Anshor itu kemudian menimpalinya dengan hujaman pedang. Tuhan kamu lebih tahu siapa diantara kami yang yang membunuhnya. Jika aku yang membunuhnya, berarti aku telah membunuh orang yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku telah membunuh manusia yang paling buruk’.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Ketika perang Uhud, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas Hamzah dan meratapinya seraya berkata, ‘Jika bukan karena Shafiyyah merasa kasihan kepadanya, aku sudah membiarkan jasadnya hingga Allah akan mengumpulkannya dari dalam perut binatang buas dan burung’. Jasadnya kemudian dikafani dengan selimut yang jika digunakan untuk menutupi bagian kepalanya maka kakinya akan terlihat dan jika bagian kakinya yang ditutup maka kepalanya yang terlihat. Dia tidak penah membaca shalawat atas salah seorang syuhada. Beliau lantas berkata, ‘Aku adalah saksi bagi kalian’. Jasad ketiga pahlawan tersebut kemudian dikubur bersama-sama dalam satu liang lahad. Lalu ada yang berkata, ‘Siapa diantara mereka yang lebih banyak membaca Al-Qur’an maka dia yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam liang lahad’. Setelah itu mereka dikafani dengan satu kain kafan.”

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abu waqqash, dia berkata, ‘Hamzah berperang pada waktu perang Uhud di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dua pedang, seraya berkata, ‘Aku adalah singa Allah’.”

Sumber :

* Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala’ I/179-182, edisi terjemah, cet. Pustaka Azzam.

* Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri. Hal 137-138 edisi teremah cet. Pustaka Al-Kautsar

No comments:

Post a Comment

Post a Comment